Home » » Kesholehan Urwah bin Zubair

Kesholehan Urwah bin Zubair

Posted by ninamustika on Wednesday, October 24, 2018

Urwah bin zubair

Urwah bin Zubair adalah seseorang yang terkenal karena kesholehannya. Beliau adalah anak dari salah satu sahabat Nabi Muhammad sallallahu alaihi wassalam yang dijamin masuk surga, Zubair. Urwah bin Zubair berteman akrab pada khalifah. Beliau telah berteman dengan khalifah sejak khalifah terssebut belum menjadi khalifah.

Urwah memiliki empat orang anak. Dan anaknya yang pertama adalah yang paling baik ibadahnya. Anak pertama Urwah telah hafal Al Quran, hafal banyak hadist, dan telah disiapkan untuk menjadi penerus Urwah.

Pada suatu hari, Khalifah mengundang Urwah untuk datang ke istana. Urwah pun datang bersama anak pertamanya. Begitu tiba di istana rupanya anak Urwah memiliki ketertarikan pada kuda-kuda istana. Ia pun menyampaikan pada ayahnya untuk diizinkan melihat-lihat kuda-kuda istana.

"Ayah kalau anda ingin bertemu dengan amirul mukminin silahkan. Izinkan saya untuk melihat-melihat kuda kerajaan."

Kuda-kuda kerajaan memiliki bulu-bulu yang halus dan bagus karena sangat terawat. Postur tubuhnya hampir sama semua. Warnanya juga sangat bagus. Urwah pun mengizinkan anak pertamanya tersebut. "Baiklah. Silahkan." Lalu Urwah pun duduk bersama khalifah dan berbincang-bincang.

Sementara mereka berbincang, tiba-tiba datang seorang prajurit terburu-buru dan mengatakan, "Maaf amirul mukminin saya harus memotong pembicaraan anda."

Khalifah pun keheranan, "Ada apa? Apakah ada penyerangan?"

"Tidak. Bukan. Mohon maaf. Tapi anaknya Tuan Urwah baru saja meninggal dunia. Ditendang oleh kuda anda."

"Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Bagaimana ini Urwa?" Khalifah teringat bahwa anak Urwa adalah seorang sholeh yang hafal Al Quran dan banyak kebaikan padanya. Khalifah merasa bersalah terhadap Urwa. Namun urwa dengan tenang menjawab. "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. Sudah ajalnya wahai khalifah. Tidak masalah. Bawa jenazahnya ke saya agar saya urus."

Maka Urwa pun mengurus jenazah anaknya. Sampai kemudian dikubur di pemakaman kerajaan. Pada waktu itu, Urwa sendiri yang turun ke liang lahat untuk meletakkan jenazah anaknya. Dan Urwa tersentuh tanah yang rupanya mengandung virus gargarina. Virus gargarina cepat menginfeksi. Begitu keluar dari meletakkan anaknya, kaki urwa sudah kelihatan membusuk. Urwah pun kesakitan dan terpaksa digotong. 

Urwah digotong menuju istana khalifah. Urwah kemudian diperiksa oleh tabib kerajaan terbaik. Kemudian tabib melaporkan pada khalifah bahwa penyakit Urwah adalah gargarina. Kaki Urwa harus diamputasi. Tidak ada jalan pengobatan lainnya. Khalifah merasa berat untuk menyampaikan pada Urwa tentang amputasi sementara Urwah baru saja kehilangan anak kesayangannya. 

Khalifah pun memanggil juru bicara terbaik untuk menyampaikan pada Urwah bahwa kakinya harus diamputasi. Dan dengan santunnya juru bicara istana menyampaikan pada Urwah. Dengan sangat hati-hati juru bicara sampaikan bahwa kaki Urwa memang harus diamputasi. Ternyata diluar dugaan, Urwa terlihat sangat tenang. Urwah pun tersenyum, "Innalillahi wa inna ilaihi rojiun. potong saja." Juru bicara pun mengiyakan dengan segera, "baiklah."

Lalu tabib terbaik dipanggil untuk mengamputasi kaki Urwah. Tabib tersebut adalah tabib yang paling mahir dalam bidangnya. Ia pun datang dengan membawa satu kendi khamar. Dan Urwah kaget, "Apa ini wahai tabib?"

Tabi tersebut menjelaskan, "Ini khamar, tuan. Kaki anda akan diamputasi. Daging anda diiris, tulang anda dipotong. Sakit yang sangat luar biasa, tuan. Tidak ada jalan lain. Anda harus minum khamar. Setiap amputasi begitu. Karena jika mabuk, anda tidak rasakan sakit."

Urwah naik pitam. Ia mengatakan, "Demi Allah, saya tidak pernah menyentuh khamar selagi saya sehat. Maka saya pun tidak akan menyentuhnya ketika saya sakit. Saya tak mau meminumnya."

Tabib bingung menghadapi Urwah. Ia pun melaporkan kejadian tersebut kepada Khalifah. Lalu khalifah mengganti cara. Khalifa mengutus algojo untuk memegangi Urwa. Agar jangan sampai Urwah bergerak ketika kakinya diamputasi. 

Beberapa algojo masuk ke ruang operasi. Urwa kaget, "Apa ini?" Tabib langsung menjawab, "Algojo. untuk memegangi anad, tuan. Agar jangan sampai anda bergerak sehingga saya salah dalam operasi. Karena jika saya salah, maka saya akan dihukum oleh amirul mukminin."

"Tidak, saya tidak mau. Ini tidak perlu."

Tabib benar-benar bingung mengahadapi Urwah. Ia pun kemudian bertanya kepada Urwah, "Wahai tuan. Kami hanya punya dua solusi ini. Kami tak tahu harus bagaimana. Berikan kami jalan keluar?"

Urwah menjawab dengan yakin, "Saya akan berdzikir kepada Allah. Kalau kau sudah melihat wajah saya memerah, potong kaki saya."

Tabib semakin heran, "belum pernah ada pasien saya seperti ini. Tapi baiklah tuan."

Lalu Urwah mulai berdzikir, "Subhanallah..Alhamdulillah..Walailahaillallah..Allahuakbar... Subhanallah..Alhamdulillah..Walailahaillallah..Allahuakbar...Subhanallah..Alhamdulillah..Walailahaillallah..Allahuakbar..." terus Urwah berdzikir sambil menutup matanya. Dan tabib melihat wajahnya mulai memerah, ketika itu tabib langsung cepat mengamputasi kaki Urwah. 

Ketika proses amputasi berjalan, tabib heran dengan kondisi Urwah. Urwah tetap saja berdzikir dengan sangat tenang. Selama proses amputasi sama tenangnya dengan sebelum amputasi. Seolah Urwa tidak merasakan samasekali bahwa amputasi sedang dilakukan.

Saat proses amputasi selesai, tabib menyampaikan pada Urwah, "wahai tuan, amputasi telah selesai." 

"Alhamdulillah." Urwah menjawab masih dengan keadaan sangat tenang. Urwah pun melihat bahwa darannya sedang mengalir. Tapi ia tetap sangat tenang. Kemudian tabib berkata, "Ini ada masalah pendarahan. Kaki anda harus dimasukkan ke minyak panas. Agar kulit terbakar dan pendarahan bisa terhententi segera. Tak ada cara lain. "

"Innalillahi wainnailaihi rojiun. Lakukan."

Urwah mulai berdzikir lagi. Dan ketika wajahnya memerah, tabib langsung masukkan kaki Urwah ke minyak panas. Namun Urwa kali ini kesakitan dan pingsan.

Beberapa saat kemudian Urwah pun tersadar kembali. Ketika Urwah sadar, ia langsung menanyakan keberadaan kakinya yang terpotong. Tabib pun memberikan telapak kaki tersebut kepada Urwah. Urwah mengangkat telapak kaki itu di hadapan dirinya. Ia mengatakan, "Saya bersyukur kepada Allah. Alhamdulillah. Segala puji kepada Allah yang telah menitipkan kamu kepada saya selama empat puluh tahun. Tidak pernah satu kali pun saya pakai kamu untuk pergi ke tempat haram. Satu kali pun tidak pernah buat maksiat." Kemudian Urwah menyerahkan kakinya kepada tabib kembali untuk dikubur.

Thanks for reading & sharing ninamustika

Previous
« Prev Post

1 comments:

  1. Sungguh betapa hebatnya kekuatan zikir, riwayat yang sungguh bisa menjadi tauladan

    ReplyDelete

Search This Blog

Powered by Blogger.

Follow by Email