Home » » Atha' bin Abi Rabah

Atha' bin Abi Rabah

Posted by ninamustika on Thursday, December 27, 2018

hijrah
Atha' bin Abi Rabah rahimakumullah adalah seorang alim ulama. Ia dulunya seorang budak. Ia memiliki fisik berwarna hitam, kurus, kaki kanannya pincang, dan mata kanannya buta. Tapi kekurangan fisiknya bukan lah alasan untuk tidak bisa menjadi alim ulama atas izin Allah. Atha bin Abi Rabah kemudian begitu masyhur. Hingga pada suatu waktu, khalifah mengeluarkan peraturan bahwa pada musim haji, tidak ada yang boleh mengeluarkan fatwa kecuali Atha' bin Abi Rabah.

Pada suatu musim haji, datanglah khalifah sekeluarga. Khalifah membawa kemah besar lengkap dengan segala fasilitas kemegahan dan keanggunan istana yang dimilikinya. Ia kemudian melaksanakan wukuf di Arafah. Ketika itu khalifah mencari Atha' bin Abi Rabah. Ia mencari Atha karena mencari seorang mufti. Ia ingin menanyakan sesuatu pada seorang mufti.

Rupanya orang yang ingin bertanya kepada Atha' bin Abi Rabah sangat banyak. Orang-orang mengantri untuk bertanya. Kemudian datanglah khalifah. Khalifah adalah seorang yang sholeh. Begitu ia masuk ke kemah Atha, ia pun disambut dengan mulia oleh Atha'. Lalu Atha bertanya dengan sangat lembut, "Wahai Amirul mukminin, kenapa anda datang ke sini?" 

Khalifah pun menyampaikan bahwa ia ada pertanyaan untuk ditanyakan pada Atha. "Saya punya hajat. Ada pertanyaan yang ingin saya tanyakan."

Atha bertanya pada khalifah, "pertanyaan anda pribadi atau pertanyaan umat islam?"

"pertanyaan saya pribadi" jawab khalifah.

Atha dengan tegas berkata, "Wahai Amirul Mukminin, mohon maaf. Anda keluar, antri bersama muslimin. Karena ada yang sudah antri sebelum anda pun punya pertanyaan pribadi. Kalau anda punya pertanyaan umat islam, maka anda saya dahulukan."

Pengawal-pengawal khalifah marah. Namun khalifah tetap diam dan tenang. Khalifah pun keluar dan ikut mengantri. Selama khalifah mengantri, Atha tetap menjawab pertanyaa-pertanyaan dengan tenang. Begitu juga ketika tiba giliran khalifah yang bertanya, Atha menjelaskan jawabannya dengan sangat tenang. Setelah itu khalifah pulang ke istana.

Sesampainya di istana, khalifah mengumpulkan orang-orang di istana, kerabat-kerabatnya dan pegawai istana, serta pengawalnya. Ia ingin menjelaskan tentang peristiwa yang terjadi pada saat wukuf di Arafah dengan Atha'. 

Khalifah berkata, "Apa yang kalian lihat, bukan lah sesuatu yang memalukan. Demi Allah, Allah memuliakan Atha' bin Abi Rabah dari saya karena ilmunya. Dan, dalam islam, memang seorang alim di atas seorang amir. Dan memang saya punya hajat pribadi. Maka jangan ada yang pernah merasa marah pada Atha' bin Abi Rabah. Karena saya sendiri tidak marah padanya. Dan wahai anak-anak ku dan para pengawalku, belajarlah agama, karena ilmu agama akan mengalahkan singgasana-singgasana para khalifah."

...
Setelah beberapa waktu, khalifah tersebut meninggal dunia. Penggantinya adalah adik nya sendiri. Ia pun menyambung relasi yang dibangun kakak nya. Begitu juga dengan Atha' bin Abi Rabah. Ia tetap ingin posisi mufti istana tetap lah oleh Atha' bin Abi Rabah. Peraturan tentang fatwa musim haji hanya boleh dari Atha' juga tetap dilaksanakan. 

Suatu waktu, Atha bin Abi Rabah berangkat menuju ke istana. Atha bin Abi Rabah mengendarai keledai. Ia menggunakan baju dan imamah yang sudah sangat tua. Ia berangkat dari Mekah ke Damaskus di Syria. Lama perjalanan sekitar satu bulan. 

Ketika hampir sampai ke istana, ia bertemu dengan seorang ulama lain nya, Atha' dari Persia. Atha' dari Persia juga seorang yang sangat terkenal pada masa itu. Ia berasal dari keluarga yang kaya. Ia berangkat dengan kereta kencana. Kereta kencana nya sangat indah. Lengkap dengan dua pengawal yang mengemudikannya. 

Atha' dari Persia turun dan mendekat keledai Atha' bin Abi Rabah. Ia mendatangi Atha' bin Abi Rabah. Ia pun memeluk dan bersalaman dengan Atha' bin Abi Rabah. Mereka ngobrol sebentar lalu Atha' dari Persia kembali ke kereta kencananya.

Di kereta kencana itu ada pula anak Atha' dari Persia. Ternyata anak Atha memperhatikan Atha' bin Abi Rabah. Dan ia merasa bahwa Atha' bin Abi Rabah terlihat sangat miskin. Ia berkata, "Ayah, siapa orang ini? Saya belum pernah lihat orang semiskin ini."

Atha pun menjawab, "hati-hati dengan ucapan lisan mu. Ini adalah Atha bin Abi Rabah."

Anak tersebut kaget, "Atha bin Abi Rabah? Seorang alim ulama?"

"Iya, makanya hati-hati. Jangan ngomong sembarangan. Walau pun bukan Atha bin Abi Rabah, kau tetap tidak sepantasnya mengucapkan kalimat itu."

Anak itu pun beristigfar kepada Allah. Lalu ia melihat ayahnya berjalan kaki  bersama Atha bin Abi Rabah masuk ke istana. Setelah menunggu lama, keluarlah mereka berdua. Anak tersebut penasaran dengan apa yang terjadi. Ia pun berkata pada ayahnya, "ayah, ceritakan apa yang terjadi di dalam."

"Kalau bukan Atha bin Abi Rabah, saya tidak akan diijinkan masuk. Begitu kami sampai di pintu  gerbang istana, khalifah berdiri dari singgasananya. Khalifah mendekati Atha bin Abi Rabah. Khalifah mengetahi bahwa itu Atha bin Abi Rabah seorang alim ulama. Sedang para pejabat yang ada di ruangan itu banyak yang tidak mengenalinya. Khalifah pun tahu bahwa Atha punya julukan 'Aba Muhammad' karena anak pertamanya bernama Muhammad. 

Khalifah berkata, 'Kemarilah Aba Muhammad." Lalu Atha bin Abi Rabah disilakan duduk di sebelah singgasana khalifah. Padahal tidak ada yang pernah duduk di sana. Bahkan anak khalifah sekali pun. Lalu khalifah bertanya, "Wahai Aba Muhammad, ada hajat apa?"

"Ada hajat saya. Yang pertama, penduduk Mekah wahai Amirul Mukminin, tetangganya Allah dan tetangganya Rasulullah, terlambat pemberian kerajaan untuk mereka. Maka saya mengingatkan anda pada Allah, agar memberikan hak itu kepada mereka."

"Baik" khalifah pun langsung memanggil para pegawai untuk menyelesaikan urusan tersebut. Dan langsung dilaksanakan.

"Ada lagi Aba Muhammad?"

"Ya Amirul Mukminin. Para mujahidin di perbatasan, berjihad setiap hari, terlambat gaji mereka, padahal mereka memiliki anak dan istri, maka berikan hak mereka."

"Baiklah." dan para pegawai diperintahkan untuk segera melakukan apa yang Atha sampaikan.

"Ada lagi ya Aba Muhammad?"

Kemudian Atha bin Abi Rabah terus menyampaikan satu per satu hajat kaum muslimin sampai lima hajat telah tersampaikan. Dan terakhir, ketika ditanya, "Ada lagi ya Aba Muhammad?"

Atha bin Abi Rabah kemudian berdiri di hadapan khalifah dan mengatakan kalimat yang membuat seisi istana guncang. Atha berkata sambil berdiri dan menunjuk khalifah di hadapannya. Ia berkata dengan tegas, "Wahai Amirul Mukminin ada hajat yang lebih penting dibandingkan dengan hajat yang tadi sudah saya sampaikan."

Khalifah berkata, "Apa itu ya Aba Muhammad?"

Seisi istana kaget. Belum pernah ada sebelumnya orang yang berdiri di hadapan khalifah. Terlebih lagi sambil menunjuk. 

"Apa itu ya Aba Muhammad?"

"Demi Allah wahai Amirul Mukminin. Kau dilahirkan ke muka bumi ini sendirian. Dan kau juga akan mati sendirian. Dan kau akan dihisab oleh Allah sendirian. Demi Allah, semua yang kau lihat di sekitar mu ini tidak bermanfaat buat kamu. Maka bertakwalah pada Allah."

Lalu khalifah menangis. Ia pun berkata, "Jazakallahu khairan."

Atha dari Persia dan Atha bin Abi Rabah pun ke luar istana. Selama di istana Atha bin Abi Rabah tidak meminum air sedikit pun. Dan ketika mereka sampai di gerbang, seorang sekretaris mengejar dan memberikan sekantong uang emas. Namun Atha bin Abi Rabah menolaknya. Ia berkata, "demi Allah saya datang tidak untuk ini." Lalu ia pun pulang.

Thanks for reading & sharing ninamustika

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

Powered by Blogger.

Follow by Email