Home » » Menitipkan Bayi pada Allah

Menitipkan Bayi pada Allah

Posted by ninamustika.com on Sunday, December 23, 2018


Pada suatu waktu di masa kepemimpinan Umar bin Khatab. Umar bin Khatab sering duduk di masjid di antara waktu sholat. Ia melakukan itu untuk memberi kesempatan masyarakat berkomunikasi padanya. Suatu hari masuklah orang yang unik ke dalam masjid. Lelaki yang kembar identik. Tak hanya wajah dan tubuhnya yang persis sama, bahkan cara berpakaian sampai cara jalannya nya pun sama.

Keunikan tersebut membuat Umar takjub dan berkata, "Subhanallah. Saya belum pernah melihat ada orang kembar seunik ini. Saya ingin berbicara pada mereka." 

Seorang sahabat menyahut, "biar saya panggilkan ya amirul mukmini."

Lalu orang kembar itu dipanggil. Mereka mendekat kepada Umar. Yang satu berjalan di depan. Satu nya lagi berjalan di belakang. Hingga sampai yang berjalan di depan ke dekat Umar, Umar berkata, "Segala puji bagi Allah yang telah menciptakan kalian kembar seperti ini. Apakah yang di belakang itu adikmu?"

"Bukan, amirul mukminin. Ini anak saya."

"Anakmu? Subhanallah. Lebih luar biasa lagi kalau ia adalah anakmu. Luar biasa Allah ciptakan anakmu persis seperti mu." Umar takjub karena yang disangka kembar itu ternyata ayah dan anak. Namun seperti tak ada bedanya. Sangat persis.

"Ya Amirul Mukminin. Kalau anda dengar kisah lahirnya anak ini. Anda akan lebih kagum lagi pada Allah."

Mendengar pernyataan lelaki itu, Umar langsung mengumpulkan orang-orang, "Kumpul semua"

Setelah semua berkumpul, Umar berkata, "Dengarkan kisah orang ini." Umar tertarik dengan pernyataan orang tadi bahwa jika mendengar kisah lahirnya anak tersebut akan lebih kagum pada Allah.

Kemudian orang tersebut mulai bercerita, "Wahai amirul mukminin, umur anak saya ini 19 tahun. 19 tahun yang lalu, saya pernah berjihad. Waktu saya pergi berjihad, istri saya sedang hamil. Saya baru menikah. Ada panggilan jihad, saya mau pergi ikut berjihad. Waktu itu istri saya sangat sedih. Ia mengatakan bahwa mereka baru saja menikah. Ia juga sedang hamil. Saya memahami kesedihannya. Istri saya takut sendirian.

Waktu saya keluar rumah hendak berangkat, saya memegang perutnya. Lalu saya berkata, "Saya titipkan bayi ku ini pada Mu, Ya Allah."

Dan saya katakan pada istri saya, "tenanglah, Allah akan menjaganya."

Istri saya terlihat tenang dan saya pun berangkat. Saya berjihad selama sembilan bulan di medan perang. Setelah sembilan bulan saya terpikir bahwa sudah saatnya istri saya melahirkan. Saya ingin pulang ke Madina. Saya ingin lihat. Kemudian saya kembali.

Sewaktu saya tiba di rumah, istri saya tidak ada. Saya pun ke rumah kerabat saya. Dan mereka menyampaikan bahwa istri saya tidak ada lagi. Istri saya baru saja meninggal kemaren. Saya pun bertanya, "Bagaimana ceritanya? Apa ia melahirkan?"

"Tidak. Ia tidak sempat melahirkan. Ia juga tidak sakit."

"Baiklah. Saya akan pergi ke medan perang, berjihad lagi. Tapi malam ini saya akan tidur di rumah saya.. Tapi bisa tunjukkan dimana kuburan istri saya."

Kemudian beberapa sepupu mengantarkan saya. Di kuburan istri saya saya melihat fenomena yang unik. Di kuburan istri saya seperti ada debu. Seolah kuburan itu baru saja ditutup. Saya berkata, "Ada apa ini? Istri saya kapan dikubur? Kemaren apa baru saja sekarang?"

"Kemaren."

"Kenapa seperti baru saja dikubur. Apa ada yang menggali di sini?"

"Tidak. Dari kemaren sejak kami kubur istri kamu, memang begini keadaannya. Bahkan kalau dari jauh keliatan sekali debu nya. Seperti baru saja diutup."

"Demi Allah saya tahu istri saya soleha. Tak mungkin ini tanda keburukan. Pasti ini tanda baik. Karena istri saya sangat baik. Ia patuh pada Allah. Ia selalu menjaga ibadahnya. Ayo kita gali"

Kemudian kuburan di gali. Sewaktu digali. Saya temukan jenazah istri saya masih utuh dan anak ini sedang berada di bawa rahim istri saya, sedang menangis bayi ini. Saya pun menggendongnya. Dan saya dengan sepupu-sepupu saya mendengar suara, "Ambillah anakmu yang kau titipkan pada Allah."

Dan kami demi Allah tidak tahu dari mana asal suara itu. Lalu saya mengambil anak saya. 

Orang itu menagis. Sambil menangis ia berkata, "demi Allah wahai amirul mukminin, jika saja waktu itu saya mengatakan, 'Ya Allah, aku titipkan istriku juga pada Mu.' maka aku yakin istri ku juga belum mati sampai sekarang.

Thanks for reading & sharing ninamustika.com

Previous
« Prev Post

0 comments:

Post a Comment

Search This Blog

Powered by Blogger.

Follow by Email