Berkah di Hari Idul Fitri Harus Dipertahankan


Idul fitri tahun ini adalah Idul fitri yang teristimewa. Ini pertama kalinya aku berhari raya dengan status sebagai istri. Hal yang memang sudah lama aku inginkan. Meski ternyata ketika itu terjadi, ayah sudah tiada. Senang dan sedih berbaur di dalam hati dan pikiranku saat takbir berkumandang di Talang, Solok, Sumatera Barat. Senang karena mendapat keluarga baru. Sedih karena ayah tak ada lagi. Bahkan aku berada terlalu  jauh dari keluargaku yang menemaniku sedari aku kecil.

Di malam takbiran itu aku pun sesegukan. Tak tahan kiranya menahan kesedihan. Aku pun video call dengan keluarga ku. Tapi signal di sana tak selancar di Kota. Video callnya macet-macet. Untungnya telponan lancar. Aku menelpon ibu ku. Yang tahun ini memilih lebaran di Bangka Belitung di rumah ponakannya. Aku meminta maaf lahir bathin dengan suasana sangat sedih. Kami menangis bersama. Syukurnya ibuku ditemani adik laki-laki ku di sana. Aku berharap ibu tidak merasa sepi.

Setelah menelpon ibu, aku menelpon kakak perempuanku di tempat asalku, Bengkulu. Di rumah kami itu mereka berempat saja, kakak perempuanku bersama suami dan anaknya yang berusia satu tahun, lalu ada adik laki lakiku yang satu lagi. Sungguh idul fitri yang sangat berbeda dari tahun tahun sebelumnya di kami kami selalu kumpul bersama. Dan telah menjadi tradisi selama puluhan tahun. 

Kalau di tempat asalku, tradisi di rumahku. Biasanya malam takbiran kami menyetel televisi atau menyetel takbiran dengan suara yang tinggi. Ayah biasanya takbiran di masjid. Kakak perempuanku yang gemar memasak kue, biasanya memasak kue bronis malam itu. Ada banyak makanan dan minuman yang disediakan di rumah. Maklum ayah termasuk yang tertua di generasinya. Jadi yang muda-muda akan banyak datang ke rumah. 

Di Talang, ternyata situasinya berbeda. Malam takbiran itu ada anak anak remaja masjid yang pawai obor dan takbiran keliling. Seharusnya sangat seru menurutku. Tapi ternyata takbirannya tak lewat muka rumah. Namun suasana sangat ramai karena anak-anak banyak kumpul bermain meski hari malam. Kami tak banyak masak kue. Hanya sehari di pagi puasa terakhir itu kami memasak lemang pisang. Makanan terbuat dari beras ketas putih atau cokelat, dicampur pisang, dan santan kelapa. 

Jumlah banyaknya beras disamakan dengan jumlah banyaknya santan kelapa. Sedangkan pisangnya menyesuaikan saja. Tidak terlalu banyak juga tidak terlalu sedikit. Sebuah pisangnya dipotong menjadi lima. Dan semua bahan dimasukkan ke dalam bambu yang sudah di bersihkan. Lalu bahan lemang pisang tersebut siap dimasak. Dimasaknya dengan cara dibakar. 

Di pagi hari yang fitri. Aku dan keluarga suami berangkat menuju masjid. Masjidnya tak jauh dari rumah. Situasi sangat dingin dan berkabut. Hujan gerimis membasahi seisi desa. Rasanya memang khas suasana idul fitri. Perjalan menuju ke masjidnya dilengkapi dengan drama harus turun jenjang yang ternyata lumayan banyak dan licin serta becek. Untungnya aku pakai sandal jepit. 


Masjid sangat ramai. Masjidnya besar dan dua tingkat. Ternyata tak bisa juga menampung seluruh jamaah. Terpaksa banyak jemaah yang berdiri di luar masjid, di teras-teras masjid disaat jemaah dalam masjid duduk. Ketika hendak sholat dan jamaah dalam masjid berdiri, barulah mereka yang tak kebagian tempat tersebut masuk masjid dan memposisikan diri. Setelah sholat id mereka keluar lagi. Ada yang duduk-duduk ada pula yang berdiri sambil mendengarkan khutbah idul fitri.

Terdengar suara Pak Ustadz memulai dengan kalimat bahwa di hari idul fitri umat islam seperti anak yang baru dilahirkan oleh ibu kandungnya. Artinya tidak mempunyai dosa lagi. Dan beliau memberi judul ceramahnya dengan judul "Memelihara tidak semudah mendapatkan". Benar sekali, dalam hal apa pun mungkin memang begitu, memelihara tidak semudah mendapatkan. Aku teringat dulu sewaktu sekolah dasar, seorang kakak kelas yang pertama kali mengucap itu padaku. 

Iya bertanya, "rangking berapa dek?"

Ku jawab rankingku. Lalu ia mengatakan, "Ingat dek, memelihara tidak semudah mendapatkan," lalu ia pun pergi. 

Pada waktu itu aku keheranan. Karena aku tidak mengenalnya. Dan aku juga tidak terlalu mempedulikan kata-katanya. Dikemudian hari baru aku sadar akan pesannya.

Pak Ustadz melanjutkan. Ia mengatakan bahwa orang yang berhari raya adalah orang yang bertambah ketaatannya selama bulan ramadhan dan bertambah takutnya pada Allah selama bulan ramadhan. Dan orang itu beruntung karena telah menyiapkan bekal untuk akhiratnya. Dan rugi orang yang sebaliknya. Karena belum tentu kita akan menemui ramadhan di tahun yang akan datang.

Ia juga menyampaikan bahwa di hari raya id fitri kita diperintahkan mengucapkan minal aidin wal faizin kepada saudara sesama muslim. Sebagai tanda perolehan kemenangan dari sebuah perperangan yang besar. Bulan ramdahan sama seperti perang. Perang melawan rasa lapar haus dan nafsu lainnya.

Kemudian ia mengatakan bahwa yang menjadikan dekat jauh dengan Allah adalah dosa kita. Sehingga kita harus menjaga kesucian yang telah kita raih. Jangan sampai kita jauh dari rahmat Allah karena banyaknya dosa kita. Jangan sampai seperti kisah adam hawa ketika dikatakan untuk tinggal di surga. Adam hawa diperintahkan untuk tidak menikmati sebuah buah. Namun boleh menikmati apapun yang ada di dalam surga. pada saat itu adam hawa dekat dengan Allah.

"Ketika adam digoda setan dan memakan apa yang dilarang oleh Allah. Lalu adam memakan buah yang dilarang itu beserta istrinya. Maka lepaslah pakaian adam hawa. Tampak auratnya. Maka mereka menjadi hina dihadapan Allah. Karena adam hawa melanggar perintah Allah. Maka Adam Hawa diusir dari surga bersama iblis setan. kemudian adam hawa ketika di bumi setiap hari berdoa bertaubat pada Allah. Hampir empat puluh tahun lamanya selalu berdoa. Dalam keadaan cemas takut tersiksa karena dosanya.

Jangan ikuti langkah langkah setan. Karena melakukan dosa mengikuti langkah setan. Adam hawa menjadi jauh dari Allah. Namun taubatan adam hawa kemudian diampuni dan dipertemukan. Jangan pernah menajdi kafir. Jangan pernah menajadikan selain Allah srbagai pelindung. karena berlindung kepada Allah adalah perlindungan yang lemah seperti sarang laba laba. Apapun selain Allah tidak boleh dijadikan pegangan.

Orang-orang yang kafir sama seperti nyamuk. Sama seperti kera sama seperti babi sama seperti binatang ternak. Nyamuk adalah binatang yang kecil namun dibenci semua orang. Binatang kecil namun bisa membunuh orang secara perlahan. Babi kalau mngamuk tidak akan peduli siapa orang yang ada dihadapannya. Seperti istilah membabi buta. Sedangkan monyet adalah hewan yang paling sulit diatur. 

Binatang ternak dinilai dari fisiknya. Manusia yang beriman dinilai dari ketaatannya. Tidak ditentukan dari apa yang kita miliki. Maka jika tidak mau sholat berjamaah. tidak mau baca al quran. itulah orang yang hina. Sepi nya masjidnya disuatu kampung menunjukkan berjalan dengan baik atau tidaknya agama di tempat tersebut.

Khotbah id adalah sunna muakad. Usahakan mendengarkan khutbah. Saat khutbah id setan menangis karen rahmat Allah yang Allah berikan pada muslimin. Maka baiknya muslimin tetap mempertahankan memelihara kondisi yang suci yang ada pada hari idul fitri. Terus menjaga ibadah dan terus meningkatnya.

Mari saling memaafkan dan mulailah sesutu yang baru. Memaafkan itu dekat pada Allah. Kemudian tingkatkan ilmu agama. Iman sangat bergantung dengan ilmu. Dan carilah teman baru yang memiliki krbaikan yang belum kita miliki. Jika ingin rajin beribadah maka bertemanlah dengan orang yang rajin beribadah. Teman akan mempengaruhi kebiasaan seseorang.

Perbanyaklah infaq dan sedekah. Karena infaq dan sedekah menambah berkah, dapat menghapus dosa dan dapat menyembuhkan penyakit."

Pak Ustadz menutup khutbahnya. Seluruh jamaah bersiap ke luar masjid dan melanjutkan silaturahmi. Banyak juga yang sudah berjabat tangan dan saling memaafkan di masjid. Begitupun kami. Lalu kami keluar. Suasana sangat ramai. Dilengkapi pula dengan banyak pedagang yang telah berjualan di depan masjid. Pada waktu itu aku pengen banget makan sate padang. Soalnya tadi selagi di dalam masjid aroma nya sudah masya Allah banget sedap. 

Tapi tentu saja kami melanjutkan dengan ke rumah beberapa kerabat. Kami pun makan lontong di rumah kerabat. Ini juga salah satu yang berbeda dari keluarga ku. Biasanya kami makan bersama di rumah. Tapi memang kebetulan keluarga suamiku punya kebiasaan makan lontong di setiap berbuka puasa. Jadi hari lebaran dnegan lontong sudah tidak istimewa lagi mungkin.


Begitu pun dengan silaturahmi dari rumah ke rumah. Tidak begitu terasa istimewa. Karena memang sudah biasa hampir setiap hari saling silaturahmi. Berbedaa dengan di kota. Dimana suasana sibuk sangat terasa. Apalagi di perumahan yang setiap harinya pintu pagar tertutup rapi. Hanya di hari raya idyul fitri yang terbuka lebar. Jadi benar benar momen yang istimewa. Semoga semua muslim mendapatkan keberkahan dengan selalu bisa mempertahankan berkah yang telah diraih. Aamiin.

0 Response to "Berkah di Hari Idul Fitri Harus Dipertahankan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel