Rabi' bin Haitsam

Rabi' bin Haitsam

Rabi' bin Haitsam adalah seorang ulama yang terkenal. Ia terkenal dengan kesholehannya yang luar biasa. Ia merupakan seorang yang benar-benar bisa mengontrol lisannya. Ia biasanya hanya berbicara tentang kebaikan. Ia hanya memberi nasihat. Ia menanyakan kabar orang. Ia membaca Al Quran. Atau ia berzikir. Pada masa akhir hidupnya ia mendapatkan ujian berupa stroke setengah badan.  Namun ia tetap selalu sholat berjamaah ke masjid. 

Suatu hari dua orang murid beliau datang ke rumahnya. Salah satu murid bertanya kepada Rabi' bin Haitsam, 

" Wahai imam, apa rahasianya, bagaimana anda bisa mengontrol lisan anda?" 

Rabi' bin Haitsam menjawab, "Wahai murid-muridku, apa sampai sekarang kalian masih ragu ada Allah? Apakah kalian masih ragu kalau di pundak kanan dan kiri kalian, Allah telah letakkan malaikat yang akan mencatat amal baik dan amal buruk kalian? Dan pasti, demi Allah, akan dibacakan dan dihisabkan untuk kalian di akhirat nanti?" 

Muridnya merenungi perkataan Rabi' bin Haitsam. Lalu ia berkata, "Baiklah, imam. Alhamdulillah saya mendapatkan ilmu."
Tiba-tiba datanglah seorang anak laki-laki Rabi' bin Haitsam. Ia membawa sebuah nampan besar makanan mewah, Halwa, yang dibuat dalam waktu yang lama. Membuatnya tidak mudah. Bahan-bahannya mahal. Makanan ini biasanya dimakan oleh para pejabat. Makanan atau kue mewah ini telah dipotong-potong. Ia berkata kepada Rabi' bin Haitsam, " Wahai ayah, semoga Allah senantiasa menjaga anda. Ibu membuatkan untuk anda Halwa. Ibu berharap anda memakannya."

Rabi' bin Haitsam menjawab, "baiklah"

Begitu Rabi' bin Haitsam baru mau mengambil dengan tangan kanannya, dan mempersilahkan murid-muridnya untuk ikut makan, terdengar ketukan pintu rumah. Rabi' bin Haitsam mengisyaratkan kepada anaknya untuk membukakan pintu. Anaknya menuju pintu dan membukakan pintu. Ia menemukan orang gila berdiri di hadapannya. Orang gila itu memakai pakaian yang sangat lusuh. Rambutnya berantakan dan tidak memakai alas kaki. Ia mengisyaratkan meminta makan.

Rabi' bin Haitsam memanggil anaknya. Ia menyuruh anaknya mengangkat nampan halwa untuk diberikan kepada orang gila tersebut. Anaknya pun membawakan nampan yang berisi halwa itu. Kemudian ia berjalan menuju orang gila di depan pintu. Orang gila tersebut mengambil nampan itu dan makan dengan lahap. Air liurnya berjatuhan di nampan. Ia memakan semuanya tanpa sisa. Kemudian melemparkan nampan tersebut dan langsung berlari pergi. 
Anak Rabi' bin Haitsam menutup pintu. Ia kembali menuju ayahnya dan berkata, "Wahai ayah, semoga Allah senantiasa menjaga anda. Tadi yang meminta-minta adalah orang gila. Dia tidak mengerti nilai makanan yang kita kasih. Kalau tadi anda suruh saya ke dapur untuk mengambil makanan apa saja, dia juga pasti akan memakannya. Kenapa harus halwa?"

Rabi' bin Haitsam berkata, "Wahai anakku, orang gila tersebut memang tidak tahu nilai makanan yang kita kasih dan tidak penting bagi saya. Tapi Allah tahu nilainya. Ingatlah firman Allah: Kalian tidak akan mendapatkan balasan sempurna dari sedekah kalian. Sampai kalian menginfakkan apa yang paling kalian sukai."

Muridnya lalu bertanya kepada Rabi' bin Haitsam, "Wahai imam, apa nasihat anda untuk kami dalam ibadah?"

Rabi' bin Haitsam menjawab, "Rahasiakan amal sholeh kalian."

Lalu terdengar suara adzan berkumandang. Anak Rabi' bin Haitsam datang menopang ayahnya. Rabi' bin Haitsan meminta dibawa ke masjid. Murid-muridnya pun ikut membantu menopang beliau. Di tengah perjalan ke masjid, muridnya bertanya, "Wahai imam, anda mempunyai keringanan, kenapa tidak sholat di rumah?"

Rabi' bin Haitsam berkata, "Wahai muridku, aku mendengar dengan kupingku suara adzan. Panggilan sholat dari Allah, Pencipta Langit dan Bumi. Apakah saya akan sholat di rumah? Demi Allah saya memilih sholat di masjid walau harus merangkak."

Baca juga: Abu Qilabah di Tengah Padang Pasir

0 Response to "Rabi' bin Haitsam"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel