Umair bin Sa'ad

kisah orang sholeh

Umair bin Sa'ad adalah salah satu sahabat Nabi Muhammad SAW yang masih hidup di masa kekhalifaan Umar bin Khatab. Ia adalah sahabat Nabi yang terkenal dengan ketegasannya. Ia suka ikut berjihad di medan perang. Ia juga terkenal sebagai seseorang yang berilmu. Ia memiliki sifat yang sangat baik. Ia begitu pemurah dan ramah terhadap masyarakat. 

Pada masa kekhalifaan Umar bin Khatab, Umar memiliki salah satu wilayah kekuasaan yang masyarakatnya terkenal rewel. Setiap dikirimkan seorang gubernur untuk wilayah tersebut, masyarakat di sana selalu mengeluh dan minta untuk pergantian gubernur kembali. Umar akhirnya menggelar rapat khusus membahas siapa yang sebaiknya menjadi gubernur untuk wilayah tersebut. Hingga akhirnya keputusan rapat memutuskan bahwa Umair bin Sa'ad adalah orang yang tepat.

Baca juga: Rabi' bin Haitsam

Umair bin Sa'ad kemudian dipanggil menghadap khalifah. Pada saat itu ia sedang sibuk berjihad di suatu perperangan. Namun ia memenuhi panggilan khalifah. Umar bin Khatab berkata, " Wahai Umaair, saya mau menunjuk kau menjadi gubernur." Umair kaget dan menjawab, "Wahai Amirul Mukminin, maafkan saya, jangan tunjuk saya menjadi gubernur. Saya tidak mau. Tunjuk saja saya menjadi pasukan perang. Tunjuk saya memanah. Tunjuk saya membawa batu. Jangan jadi gubernur, saya tidak mau." Umar berkata, "Tidak bisa. Ini perintah saya. Kau harus berangkat." 

Umair pun berangkat menuju wilayah tersebut. Umair menjadi gubernur yang sangat terbuka terhadap masyarakat. Ia tidak memakai rumah khusus. Ia membangun sebuah rumah kecil. Ia tinggal di sana dan mempersilahkan masyarakat datang kalau ada keperluan. Ia tidak memiliki kemewahan. Ia hanya memiliki beberapa lembar baju. Ia memiliki beberapa peralatan masak. Dan ember untuk menampung air. Setelah satu tahun di sana, tak ada keluhan masyarakat. Umar juga tak mendapat kabar apa pun dari daerah ini. Umar bin Khatab pun memanggil Umair untuk menghadap.
Sebelum berangkat menuju khalifah, Umair menghibahkan rumahnya kepada orang yang membutuhkan. Lalu Umair berangkat untuk menghadap khalifah dengan berjalan kaki. Ia membawa embernya dan beberapa alat masak yang ia punya. Dari daerahnya menuju tempat khalifa berjalan kaki menghabiskan waktu tiga bulan. Begitu sampai di hadapan khalifa ia dalam keadaan yang sangat buruk. Ia lesu dan kotor. 

Umar berkata, "Whai Umair, kenapa keadaan kau begini? Apa kau tidak ada tunggangan? Apa masyarakat tidak menghadiakan mu keledai atau kuda?" Umair menjawab, "Tidak ada yan Amirul Mukminin. Dan saya tidak butuh itu." Kemudian Umar berkata, "Lalu apa yang kau bawa?" Umair menjawab, "Saya membawa dunia. Saya membawa seember air yang saya pakai. dan panci-panci yang saya pakai memasak." Umar pun mempertanyakan hasil daerah Umair, "Mana pengahsilan dari daerahmu?" "Sudah saya bagika kepada masyarakat" kata Umair.

Umar lalu berkata, "Perpanjang masa jabatan Umair." Namun Umair menjawab, "Jangan wahai amirul mukminin. Izinkan saya hidup bersama istri dan anak saya." Kemudian Umar pun mengizinkannya. Umair lalu kebali hidup bersama istri dan anaknya. Ia memiliki rumah di pinggir kota Madina. Ia memiliki kebun di sana. 

Suatu hari Umar mengirimkan utusan untuk memeriksa keadaan rumah Umair. Umar ingin memastikan kebenaran perkataan Umair tentang apa yang ia miliki setelah menjadi gubernur selama setahun. Bagimanapun Umair tidak memiliki laporan yang lazim. Umar ingin agar salah satu utusan memastikan, utusan tersebut juga dibelaki uang seribu dinar. Jika memang keadaan Umair sulit makan uang seribu dinar tersebut harus diberikan pada Umair. 

Utusan tersebut berangkat menuju rumah Umair. Umair tidak kenal dengan utusan ini. Utusan ini berpura-pura lewat di depan rumah Umair. Ia melihat Umair memang selalu memanggil orang yang lewat untuk mampir dan makan. Ia pun dipanggil Umair untuk mampir, "Hai saudaraku mampirlah". Utusan tersebut pun mampir. Ia memperhatikan keadaan rumah Umair. Ia tahu Umair pasti tidak memiliki banyak makanan. Namun Umair tetap menjamu dengan maksimal. Dan di hari ketiga akhirnya Umair menyampaikan pada utusan tersebut bahwa mereka kehabisan makanan.
Utusan tersebut lalu mengaaku bahwa ia utusan Umar. Ia mengatakan bahwa ia membawa seribu dinar untuk Umair. Tapi Umair menolaknya, "Saya tidak butuh itu." Istri Umair berkata, "Wahai Umair, jika kau tidak butuh, ambil saja, berikan pada orang-orang yang tidak mampu." Umair berkata, "Saya tidak punya wadah untuk menampungnya." Istri Umair lalu mengeluarkan kain tua yang bisa digunakan untuk menampung uang seribu dinar itu.

Pada saat itu juga Umair langsung berangkat ke luar rumah. Ia berkeliling membagikan uang itu kepada orang-orang miskin. Sampai tak satu pun tersisa. Harist pun melihat semua kejadian ini dengan takjub. Ia pulang menghadap khalifah dan melaporkan semua yang ia lihat. Umar pun memberikan julukan Umair adalah "Orang Yang Sangat Jarang Ada."

0 Response to "Umair bin Sa'ad "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel