Said ibn Musayyab menolak lamaran Khalifah


Said ibn Musayyab adalah seorang ulama besar yang terkenal akan kesholehannya. Ia adalah  seseorang yang sangat menjaga ibadahnya. Selama empat puluh tahun ia tidak pernah ketinggalan sholat berjamaah di masjid. Ia adalah seseorang yang sangat istiqomah. Ia juga terkenal akan ketegasannya dalam menentukan benar dan salah.

Said ibn Musayyab memiliki seorang anak perempuan yang terkenal pula. Anak perempuan Said ibn Musayyab terkenal karena kecerdasannya, kesholehannya, juga kecantikannnya. Ia hafal Al Quran. Ia juga hafal banyak hadist. Banyak laki-laki yang ingin menjadi suaminya. Bahkan keluarga khalifah pun tertarik untuk bisa melamarnya.

Pada suatu hari datanglah lamaran dari keluarga khalifah. Diketahui yang melamar adalah seseorang yang menjadi kandidiat khalifah. Ialah yang akan menggantikan posisi sebagai khalifah nantinya. Ia terkenal dengan kekayaannya yang begitu banyak. Namun ternyata lamarannya ditolak oleh Said ibn Musayyab.

Penolakan tersebut menjadi pembahasan yang menimbulkan kegaduhan di kerajaan. Semua orang heran bagaimana mungkin lamaran seorang calon khalifah bisa ditolak. Terjadilah perbincangan di antara khalifah dan orang-orang yang ada di sisinya. "Siapa sebenarnya Said ibn Musayyab?"

Kemudian ada satu orang yang mengaku tahu. Ia tahu alasan kenapa Said ibn Musayyab menolak lamaran sang calon khalifah. Ia berkata, "Saya tahu kenapa ia menolak." Orang-orang menyambut, "Ayo ceritakan kepada kami." Ia lalu menceritakan bahwa ada seorang murid dari Said ibn Musayyab yang bernama Abdullah bin Wadaah. Ia adalah murid kesayangan Said ibn Musayyab. Ia sangat rajin belajar. Ia selalu hadir di majelis ilmu Said ibn Musayyab.

Suatu waktu Abdullah bin Wadaah tidak hadir di majelis Said ibn Musayyab selama kurang lebih satu minggu. Said ibn Musayyab merasa heran. Begitu Abdullah bin Wadaah hadir kembali, Said ibn Musayyab langsung menanyainya, "Kemana saja kamu selama ini?" Abdullah menjawab, "Maaf imam, istri saya meninggal. Saya mengurus jenazahnya, mengurus keadaan rumah, dan saya sangat berduka." 

Said ibn Musayyab berkata, "Kenapa kau tidak mengabari saya. Saya bisa datang juga ke rumahmu." Abdullah menjawab, "Untuk apa datang ke tempat saya imam. Yang penting anda mendoakan saya." Said ibn Musayyab tiba-tiba bertanya, "Apa kau mau menikah lagi?" Abdullah berkata, "Wahai imam, siapa yang mau menikahkan saya dengan anak perempuannya. Saya duda. Saya miskin dan tidak punya apa-apa." 

Said ibn Musayyab langsung menjawab, "Saya nikahkan kau dengan anak saya." Anak perempuannya yang ia tolak lamaran calon khalifah untuk anak tersebut. Anak perempuan yang sangat terkenal akan kesolehan, kecerdasan dan kecantikannya. Abdullah merasa heran dan berkata, "Anda mau menikahkan saya dengannya?" Said ibn Musayyab menjawab, "Duduklah, saya akan panggilkan saksi."

Said ibn Musayyab langsung mengambilkan saksi. Ia lalu mengucapkan akad pernikahan untuk anaknya kepada Abdullah bin Wadaah. Dengan mahar uang sejumlah tiga dirham. Kemudian Abdullah bin Wadaah telah sah menjadi menantu Said ibn Musayyab. Said ibn Musayyab setelah itu langsung meninggalkan masjid. Said ibn Musayyab meninggalkan masjid. Ia berkata, "Saya akan menyiapkannya untukmu." Abdullah bin Wadaah merasa bingung.

Abdullah bin Wadaah pulang ke rumahnya. Pada waktu itu ia sedang puasa sunnah. Ia beristirahat di rumahnya. Tiba waktu magrib ia sholat ke masjid. Setelah itu pulang ke rumahnya dan berbuka puasa. Ia teringat ia baru saja dinikahkan. Kemudian ia melihat keadaan rumahnya. Rumahnya dari tanah dan tidak ada apa-apa. Tiba-tiba pintu diketuk seseorang. Abdullah berkata, "Siapa?" Ada jawaban, "Said"

Abdullah tidak terpikir sama sekali kalau itu Said ibn Musayyab, mertuanya. Said ibn Musayyab tidak pernah ditemui kecuali di masjid atau di rumahnya. Abdullah membukakan pintu dan ia kaget ternyata itu adalah Said ibn Musayyab. Postur terlihat begitu tubuhnya tinggi besar. Abdullah lalu berkata, "Kenapa anda datang? Kalau anda panggil saya, saya akan datang." 

Said ibn Musayyab berkata, "Kau lebih pantas aku datangi karena kau sekarang adalah menantu saya." Said ibn Musayyab lalu menyamping dan terlihat ada anak perempuannya di belakangnya. Said ibn Musayyab berkata, "Masuklah anakku, ini suamimu." Anaknya masuk ke rumah Abdullah bin Wadaah. Said ibn Musayyab kemudian langsung pergi meninggalkan rumah Abdullah.

Abdullah bin Wadaah merasa bingung. Anak perempuan Said ibn Musayyab langsung duduk di rumah itu. Ia membuka cadarnya. Abdullah kagum dengan kecantikannya. Abdullah merasa mungkin anak perempuan Said ibn Musayyab adalah perempuan yang paling cantik yang pernah ia lihat. Abdullah langsung melihat kesekeliling rumahnya. Ia melihat rumahnya berantakan. Ia berusaha merapikan sebisanya. 

Lalu Abdullah menemukan tidak ada makanan yang layak. Makanan yang tersisa di rumahnya adalah makanan bekas semua. Ia berpikir mau meminta bantuan ibunya. Ia lalu berkata pada anak perempuan Said ibn Musayyab, "Tunggu sebentar ya" Ia kemudian langsung pergi ke rumah ibunya. Ibunya ternyata sedang duduk berkumpul dengan beberapa orang paman Abdullah. Abdullah langsung berkata, "Wahai keluargaku, aku baru saja menikah."

Keluarganya heran, "Siapa yang mau menikah dengan kamu?" Abdullah menjawab, "Saya menikah dengan anak Said ibn Musayyab." Mereka pun kaget. Mereka semua tahu cerita bahwa Said ibn Musayyab menolak lamaran calon khalifah untuk anak tersebut. Ibunya lalu berpikir kalau anaknya bercanda, "Apa kamu gila? Kamu pikir siapa anaknya Said ibn Musayyab itu? Khalifah melamarnya dan Said ibn Musayyab menolak."

Abdullah berkata, "Demi Allah. Sekarang anak perempuan Said ibn Musayyab sudah ada di rumah saya. Tadi saya dinikahkan di masjid oleh Said ibn Musayyab." Lalu keluarganya pergi ke rumah Abdullah. Mereka kemudian melihat ada anak perempuan Said ibn Musayyab. Ibu Abdullah lalu berjanji akan membuatkan acara untuk anak perempuan tersebut. Tiga hari kemudian dibuatkalah acara pernikahan sederhana untuknya.

Setelah acara pernikahan selesai. Abdullah baru diperbolehkan ibu Abdullah berkumpul dengan Anak perempuan Said ibn Musayyab. Abdullah menemukan bahwa bacaan Al Quran anak Said ibn Musayyab sangat bagus. Ia juga mengahafal hadist lebih banyak dari yang Abdullah hafal. Ia juga sangat santu terhadap suaminya. Abdullah menjadi sangat bahagia. Cerita ini pun tersebar.

Seorang utusan kerajaan lalu mengunjungi Said ibn Musayyab. Ia pergi dengan inisiatifnya sendiri. Ia merasa penasaran. Ia ingin menanyakan apa sebenarnya alasan Said ibn Musayyab menolak lamaran calon khalifah. Kemudian malah menikahkan anaknya dengan seorang duda yang miskin. "Wahai Said ibn Musayyab, kenapa anda menolak lamaran Khalifah. Kenapa kemudian anda malah menikahkan anak anda dengan seorang yang miskin?"

Said ibn Musayyab menjawab, "Demi Allah. Saya telah mendidik anak perempuan saya dengan sebaik mungkin. Saya buat ia menghafal Al Quran. Setiap hari menghafal hadist. Saya ajarkan menutup aurat. Saya jadikan ia sebagai seorang perempuan yang paling layak menjadi istri dari suaminya. Dan kalau ia mati bertahan dengan apa seperti yang telah ia biasakan tersebut, saya bisa memastikan secara teorinya ia tentu masuk surga. 

Kalau saja ia saya nikahkan dengan khalifah. Kemudian ia datang ke istana. Ia memiliki banyak dayang-dayang. Semua jenis makanan ia bisa tinggal minta. Apakah kira-kira ia masih sibuk dengan ayat Al Quran dan hadist nabi? Seperti sekarang ia sibuk mengajari kaum muslimin? Tinggal tunggu mati saja ia masuk surga?"

Mendengar kisah ini khalifah dan orang-orang yang ada di sekitar singgasana tersebut menangis.

0 Response to "Said ibn Musayyab menolak lamaran Khalifah"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel