Masa Kecil di Kebun

Pengalaman Tinggal di Desa

Waktu pindah untuk tinggal di desa, aku baru saja naik kelas dua sekolah dasar. Secara pribadi aku menyukai suasana desa. Udara yang sejuk, air yang jernih, dan hijaunya pepohonan sangat ku suka. Kata ibuku kami akan mencoba mengelola kebun. Ayah dan ibuku telah membeli sekitar dua hektar tanah di atas perbukitan. Satu hektarnya sudah pernah ditanami oleh pemilik sebelumnya. Satu hektar sisanya masih berupa hutan. Bagian yang sudah dibuka itu pernah ditanami kopi dan palawija. Kata ibu, kami pun akan menanam yang sama. Ibu telah berencana menanam kopi, cabai, dan kacang. Untuk di sekitaran pondok, akan ditanami sedikit sayuran seperti terong, tomat, dan bayam.

Masa perpindahan itu adalah tepat di masa liburan sekolah. Tak mau membuang waktu, ayah dan ibu segera menggarap tanah yang baru saja mereka beli. Aku, kakak, dan adik ikut ke kebun dan mau membantu sedikit semampu kami. Di kebun itu telah pula dibuatkan pondok untuk berteduh. Rumah panggung yang lumayan tinggi. Bahannya dari bambu yang diambil dari kebun itu juga. Kata ayah pondok ini dibuat sebelum kami pindah ke sana. Biaya membuat pondok dari bambu cukup murah. Hanya Rp 1.500.000 saja.

Aku tertarik dengan rumah panggung dari bambu itu. Aku bergegas naik ke sana. Yang mendesign ruangannya adalah ayah sendiri. Tukang yang membuatnya hanya mengikuti design request dari ayah. Agar nyaman kalau nginap di sana, ayah membuatnya seperti rumah biasa. Ada teras depan, ada kamar, ada dapur, dan ada teras belakang, dan toilet di bagian belakang. Pelengkap di teras depan itu ada gentongan yang digantung. "Nanti gentongan ini berfungsi untuk komunikasi. Ketuk satu kali untuk panggilan istirahat. Ketuk dua kali untuk panggilan makan siang. Ketuk tiga kali untuk panggilan darurat. Ketuk empat kali untuk panggilan pulang." Begitu kata ayah.

Di halaman samping pondok, ayah membuatkan alat olahraga terbuat dari bambu. Tepatnya itu adalah gantungan. "Kalian bisa olahraga di sini di pagi hari. Sedikit melompat untuk menggapai bambu itu. Lalu berayun. Olahraga ini bisa untuk meninggikan badan. Ini sebenarnya seperti salah satu cabang olah raga. Gantungan seperti ini biasa ada di sekolah-sekolah. Tapi yang di sekolahan terbuat dari besi." Aku dan kakak langsung mencoba gantungan itu. Kami senang ada alat seperti itu. Sekaligus olahraga juga bisa untuk hiburan. Selain berayun dengan tangan, kadang kami berayun dengan kaki. Kadang mencoba meniru gaya atlet dengan gaya yang bermacam-macam. 

Di bawah pondok. Ayah membuatkan semacam tunggu perapian. Di sini bisa masak atau hanya sekadar membuat api untuk mengusir nyamuk. Perapian di kebun merupakan hal penting. Kata ayah, perpaian juga bisa menghangatkan. Juga bisa dijadikan simbol bahwa kebun ini ada orang yang menjaganya. Hal ini untuk tujuan keamanan. Supaya orang asing segan masuk ke wilayah perkebunan kita. Untuk keamanan pula, ayah menyiapkan anjing penjaga kebun. Kami kemudian memiliki dua anjing penjaga kebun, satu kami namai Riu, satu kami namai Boy.

Riu lebih kecil dari boy. Warnanya cokelat muda. Ia anjing yang lucu dan jinak. Boy berbadan ideal. Warnanya hitam tapi ada sedikit corak putih pada dada dan kakinya. Boy ini anjing yang tanpan dan gagah. Kedua anjing ini bertugas menjaga kebun. Mereka tahu siapa pemilik kebun dan siapa orang asing. Kalau ada orang asing yang mencurigakan mereka akan menggonggong tanpa henti. Masih berapa meter dari perbatasan kebun pun, mereka sudah mengenali tanda kedatangan orang asing. Dalam perkebunan, anjing penjaga juga sangat penting.

Untuk mandi, di tengah kebun ada sebuah sungai kecil. Sungai ini tepat berada di perbatasan antara lahan yang sudah dikelola dengan lahan yang masih hutan. Sungai ini letaknya seperti di dasar jurang. Untuk menggapainya harus turun melewati tebing yang curam. Jalannya sudah ayah buatkan berbentuk tangga. Tapi tetap tanah. Kalau hujan akan sangat licin. Bagian sungai itu ada yang membentuk seperti danau kecil. Tapi tak dalam. Ayah menanaminya dengan selada air. "Supaya bisa masak sayur selada." Kata ayah. Ayah telah juga membuat pancuran dari bambu agar kami mudah mandinya. Airnya sangat jernih dan segar. Kata ayah, pancuran ini sangat dekat dengan mata airnya.  Hanya beberapa meter saja. Jadi bisa langsung diminum juga.

Di kawasan pancuran itu ayah juga telah membuat lantai dari bambu agar kami mudah duduk atau berdiri di sana. Uniknya ternyata di bawah bambu sering terlihat kepiting air tawar. Kami menyebutnya ketam. Kulitnya kemerahan. Kata ayah, kalau kami bisa tangkap, nanti dimasak di pondok. Rasa ketam itu enak. Tapi menangkap ketam ga mudah. Jadi kami biarkan aja ketamnya main air. Saat mandi aku juga melihat keadaan sekitar. Kalau diperhatikan hutan itu ngeri juga. Kadang terlihat satu dua ekor monyet duduk-duduk di atas pohon. Kata ayah, prinsipnya jangan menganggu mereka. Setelah mandi, kami mengisi jerigen untuk keperluan di pondok. Bisa untuk masak atau untuk keperluan lainnya. Jerigen yang aku dan kakak pegang adalah jerigen ukuran sedang.

Jerigen itu jarang aku yang membawanya. Biasanya kakakku yang membawa jerigen itu. Di tangan kanannya ia membawa jerigen dan di tangan kirinya ia membawa peralatan mandi. Sedangkan di lehernya ia kalungkan handuk. Aku hanya membawa handuk. Kakakku pun berjalan di depanku. Aku ada di belakangnya. Biasanya ia berjalan sambil bercerita tentang tumbuh-tumbuhan. Kakakku sangat menyukai tumbuh-tumbuhan. "Dek, kamu sudah tahu belum ada tumbuhan yang buat gatal? Kena dikit aja sudah bisa buat gatal seluruh badan. Hati-hati loh. Ada tumbuhan itu di dekat jalan ke sungai." atau pada suatu waktu ia bercerita, "Dek, kamu sudah liat belum buah warna merah kehitaman di dinding jurang? buah itu bisa dimakan. Rasanya enak. Kakak sudah cicip."

Banyak cerita tentang tumbuh-tumbuhan yang ia bagikan denganku. Kadang ia menunjukkan langsung tumbuhan yang ia maksud. Aku pun mengikuti kakakku. Ia sering mengajakku mengeksplorasi kebun. Melihat kalau-kalau ada tumbuhan jenis baru yang mungkin bisa diketahui. Aku mengetahui banyak hal dari kakakku. Ia yang bercerita padaku tentang banyak jenis tumbuhan dan keistimewaan masing-masing tumbuhan tersebut. Dari kakakku lah aku tahu tentang rumpun bambu dan bambu muda yang bisa dimasak. Dari kakakku juga aku tahu tentang pohon kayu manis, tentang umbi-umbian, tentang berbagai jenis jamur, tentang daun-daunan yang bisa dijadikan bungkus nasi, dan lain sebagainya.

Kalau musim liburan sekolah, kami biasanya bermalam di kebun. Kalau bukan masa liburan, kami hanya ke kebun sepulang sekolah. Biasanya ibu bilang, "Nanti pulang sekolah ke kebun ya. Kita makan siangnya di kebun." Jadi kami begitu sampai rumah langsung bersiap berangkat ke kebun. Jarak rumah di desa ke kebun adalah sekitar satu setengah jam perjalanan. Pulang dari kebun biasanya menjelang maghrib. Biasanya sampai di rumah di desa pas masuk waktu maghrib. Kalau musim hujan biasanya kehujanan sepanjang jalan. Mulai dari kebun sampai rumah kehujanan. Begitulah sebagian kisah masa kecil kami.

0 Response to "Masa Kecil di Kebun"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel