Satu Semester di Tanjung Enim

Masya Allah Tabarakallah
www.ninamustika.com_ Sudah satu semester aku di Tanjung Enim, Kota Kecil di Sumatera Selatan. Sehari-hari aku habiskan beraktifitas di rumah. Sedikit tambahan aktifitas mengajar di bimbel. Pengalaman satu semester ini cukup membuatku mulai merasa nyaman dan betah tinggal di sini. Sebenarnya aku sudah mengenal nama Tanjung Enim sejak tahun 2013. Saat itu aku mengikuti kegiatan kuliah kerja nyata (Kukerta) atau KKN bersama Universitas Jambi, Universitas Riau, dan Universitas Sriwijaya.

Kebetulan sekali aku sekelompok dengan anak karyawan PT Bukit Asam yang sangat ternama di Sumatera Selatan. PT Bukit Asam adalah perusahaan batu bara yang telah beroperasi sejak sebelum zaman kemerdekaan. Perusahaan ini merupakan salah satu perusahaan tambang batu bara terbesar di Indonesia. Temanku sering bercerita tentang ayahnya yang bekerja di perusahaan ini. Walaupun aku mengikuti KKN hanya satu bulan saja, aku menjadi  cukup familiar dengan nama daerah Tanjung Enim.

Tamat kuliah aku kemudian ikut program SM3T (Sarjana Mendidik di Daerah Terdepan Terluar dan Tertinggal). Di sanalah aku menemukan jodohku. Seorang pria asal Solok, Sumatera Barat. Setelah menyelesaikan program SM3T kami dikuliahkan sebagai bonus dari program. Kuliah tersebut adalah kuliah profesi berasrama selama satu tahun. Aku ditempatkan kuliah di Padang, Sumatera Barat. Pria tersebut ditempatkan kuliah di Malang, Jawa Timur. Tamat kuliah profesi aku kembali ke Bengkulu, kampung halamanku. Ia kembali ke Solok, kampung halamannya.

Semenjak pulang dari kuliah profesi aku memilih di rumah saja. Aku kemudian mulai aktif menulis di blog. Juga mulai aktif di sosmed. Beberapa bulan berlalu aku semakin nyaman di rumah. Tiba-tiba aku mendapat kabar dari jodohku bahwa ia mendaftar tes untuk menjadi guru di Tanjung Enim. Aku terkejut. Tanjung Enim sangat familiar di telingaku. Tak menyangka ia bisa terpikir untuk mencari kerja di Tanjung Enim yang jauh dari kampung halamannya. Ia cerita bahwa ia dapat info dari grup whatsApp jurusannya sewaktu kuliah.

Rangkaian tes ia lalui. Kalau tak salah tesnya memakan waktu lama. Ia bolak balik Solok- Tanjung Enim beberapa kali. Akhirnya ia lulus. Ia mendapatkan pekerjaan itu. Ia menyampaikan akan melamarku secepatnya. Beberapa bulan berlalu ia pun datang melamarku. Pada waktu itu Qadarullah, ayahku sudah tiada. Ia datang memintaku kepada ibu dan adik laki-lakiku sebagai wali. Beberapa bulan kemudian kami menikah.

Untuk acara pernikahan kami, ia hanya bisa izin tiga hari. Jadi beberapa hari saja kami berkesempatan berpamitan pada sanak keluarga untuk pindah menetap di Tanjung Enim. Kemudian kami tibalah di Tanjung Enim. Ternyata di sini ramai juga. Suasananya sudah seperti kota. Fasilitas perkotaan ada di sini. Hanya saja di sini sangat berdebu. Ini mungkin dikarenakan aktifitas penambangan. Mobil besar pengangkut batu bara berlalu lalang. Bus-bus antar jemput karyawan tambang juga terlihat banyak. Bagusnya kemana-mana kita pakai masker.

Masalah debu ini lumayan mencolok. Minimarket yang tertutup dan pakai AC saja ada juga yang berdebu. Produk-produk di rak display itu nyatanya berdebu. Aku pernah beli buah yang dijual di kedai pinggir jalan, debunya banyak juga. Pernah aku beli barang di toko di pasar, berdebu juga. Tapi ada juga yang ga berdebu. Biasanya orang ada yang rajin menyirami depan tokonya dengan air. Debu-debu itu disiram saat pagi dan siang hari. Ada juga mobil penyiram debu jalanan di sini. Kalau ga salah disediakan oleh perusahaan tambang. Saat siang hari mobil ini lewat menyirami jalanan. Tetap saja sorenya debu banyak berterbangan.

Untuk tempat tinggal, kami tinggal di daerah pasar. Nyatanya seru juga. Aku biasanya ke pasar jalan kaki. Cuma lebih kurang lima menit sudah sampai pasar. Pasarnya tak terlalu besar. Mungkin bisa dikatakan kecil. Mudah sekali dalam waktu singkat mengelilinginya. Dari segi harga, kalau aku bandingkan dengan harga di Bengkulu dan Solok, di sini sedikit lebih mahal. Tapi dari segi variasi sayuran, mirip dengan Bengkulu. Sayuran yang biasa keluargaku masak di rumah dulu juga ada jualannya di sini. Mungkin karena Bengkulu-Tanjung Enim tak terlalu jauh. Hanya jarak tujuh atau delapan jam perjalanan saja.

Pasar dekat rumah ini kebetulan pasar sayur. Pasar ini adalah pasar baru. Pasar lamanya ada di tempat lain yang ga terlalu berjauhan lokasinya dari Pasar Baru. Pasar lama lebih cocok kalau mau beli perabotan rumah. Lebih cocok juga kalau mau cari pakaian, sepatu, sandal, dan mainan serta aksesoris. Di Pasar lama juga ada salon khusus wanita. Yang aku tahu ada tiga salon. Aku pernah mencoba dua salon. Satu salon coba potong rambut. Biaya potong rambut  Rp. 20.000. Satu salon lagi aku pernah coba cuma potong poni saja. Bayarnya Rp 5000. Kalau aku lihat biaya perawatan di salon-salon ini lebih murah dibandingkan dengan salon di Bengkulu.

Untuk jumlah pasar, menurutku pasar di sini banyak jika melihat bahwa Tanjung Enim adalah daerah setara kelurahan. Faktanya tanjung Enim adalah kelurahan. Bagian dari kecamatan Lawang Kidul, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan. Untuk ukuran satu kelurahan. Pasarnya lumayan banyak. Toko-toko yang menjual berbagai kebutuhan lumayan banyak juga. Tempat makan banyak juga. Penjual makanan camilan banyak juga. Pokoknya kalau mau belanja gampang aja. Mungkin karena di sini banyak karyawan tambang yang ga ada waktu buat masak. Jualan makanan ada banyak di sini. Bahkan di dekat rumahku ada beberapa penjual kue-kue sekaligus menjual aneka sarapan seperti nasi gemuk (nasi uduk), lontong, dan burgo yang sudah menjajakan dagangan sejak selepas subuh.

Satu semester di Tanjung Enim aku sempat mengunjungi beberapa tempat wisata. Sempat mengunjungi Taman Love, Tanjung Enim Zoo and Jogging Track, dan Sirkuit Balap. Kemudian ada juga pernah ke area olahraga Tanjung Enim. Aku pernah ke Taman Love itu cuma satu kali. Pernah ke Tanjung Enim Zoo and Jogging Tracknya dua kali. Lalu ke area olahraganya juga dua kali kalau ga salah. Setelah itu aku memasuki masa kehamilan. Setelah memasuki masa kehamilan, aku merasa sangat mudah lelah. Jadi aku banyak beristirahat di rumah.

0 Response to "Satu Semester di Tanjung Enim"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel