Cerita Ayah Tentang Nenek

cerita pendek

Ayah duduk mengenang masa kecilnya ketika kutanya tentang bagaimana sosok nenek sebagai seorang ibu. Kemudian ayah mengatakan bahwa nenek suka memasak. Nenek menaruh perhatian yang besar dalam hal makanan. Nenek selalu memasak makanan yang disukai kakek, ayah, dan saudara-saudara ayah.

"Apalagi kalau masuk masa ujian sekolah. Nenek akan memaksimalkan masakannya. Nenek akan memasak makanan kesukaan anak-anaknya yang sedang ujian. Itulah bentuk suport dari nenek. 

Terlebih kalau ujian nasional. Juga misalnya ada seorang anak yang sedang menghadapi tes tertentu. Bentuk suport nenek adalah dengan memasak makanan kesukaan yang bersangkutan. Itu memang terbukti berhasil.

Kami senang kalau nenek sudah begitu. Maksimal sekali dalam menyiapkan aneka makanan kesukaan. Ujian terasa lebih mudah. Ujian terasa lebih lancar.

Nenek tidak menuntut nilai yang bagus dari hasil ujian anak-anaknya. Tujuan nenek masak makanan kesukaan itu supaya anaknya senang. Kalau hati senang, pikiran tenang. Anak-anak bisa menghadapi ujian dengan lancar.

Jadi itu saja. Supaya anak-anak senang. Ujian berhasil dilalui. Bukan nilai tinggi apalagi nilai sempurna yang dicari. Bukan itu keinginan nenek."

Aku mengangguk. "Jadi, dukungan nenek untuk anaknya yang akan menghadapi ujian sekolah, ujian nasional, atau tes-tes penting lainnya adalah dengan masak-masak begitu ya, Yah?"

"Iya. Bahkan jika ada anak-anaknya yang ngekos, nenek akan datang. Saat tiba masa ujian, nenek datang. Nenek siap mendukung dengan menyiapkan berbagai makanan kesukaan anaknya yang sedang ujian."

Aku mengangguk lagi. Aku mengingat bagaimana saat aku tinggal di rumah nenek. Selama satu tahun TK aku tinggal bersama nenek dan kakek. Iya, nenek memang rajin memasak. Aku suka dengan semua masakanannya.

Nenek selalu memasak masakan kesukaan kakek. Kesukaan kakek adalah masakan bersantan. Kakek bahkan punya gudang kelapa khusus untuk masak aneka gulai. Kelapanya dipasok langsung dari desa.

Setiap hari nenek menyiapkan kelapa menjadi santan. Lalu memasak gulai. Sewaktu aku di sana, gulai yang sering dimasak salah satunya adalah gulai katuk dicampur remis. Aku suka gulai ini.

Namun yang paling aku suka adalah tempe bacem buatan nenek. Kadang, nenek masak tempe bacem. Semenjak nenek tahu aku suka banget tempe bacem, nenek sering memasakkan tempe bacem untuk bekalku sekolah.

Salah satu sesi yang aku sukai dari sekolah, adalah sesi makan siang. Pada waktu masuk sesi makan siang, aku berlari menuju tasku. Aku mengambil bekal yang ada di dalamnya. Begitu kubuka, selalu makanan kesukaanku yang nenek telah persiapkan.

Tiba-tiba ayah mengagetkanku. "Ada cerita tentang masa kecil nenek. Kamu sudah tahu belum?" "Belum. Cerita tentang apa, Yah?" "Cerita tentang nenek melihat harimau. Kamu mau mendengar ceritanya?" "Iya, mau."

"Desa tempat nenek tinggal merupakan desa yang banyak harimau. Harimau-harimau itu tinggal di dalam hutan. Mereka tidak mau sembarangan mengganggu manusia. Bahkan mereka tidak suka kalau berpapasan dengan manusia. Mereka selalu berusaha menghindar ketemu manusia.

Pada suatu waktu, di malam hari, nenek mendengar suara kambing-kambing peliharaannya seperti gaduh. Nenek penasaran dan langsung keluar menuju kandang kambing. Kemudian nenek melihat harimau sedang berupaya mengambil kambing. Nenek kaget.

Sadar ada nenek, harimau malah langsung mengejar nenek. Harimau menerkam nenek. Tiba-tiba ayah nenek muncul dari belakang harimau. Ayah nenek memukul harimau tersebut.

Ayah nenek berkelahi dengan harimau. Ayah nenek akhirnya menemui ajalnya. Kondisi fisik ayah nenek begitu parah. Harimau melukai ayah nenek di banyak bagian tubuhnya dengan ganas.

Nenek sangat ketakutan. Seluruh tubuhnya gemetaran. Lalu warga berdatangan menolong nenek dan ayah nenek. Nenek kemudian mengalami trauma parah.

Nenek selalu tampak ketakutan. Lama nenek berobat. Sampai akhirnya nenek bisa merasa tenang kembali. Disamping itu warga memburu harimau yang membunuh ayah nenek. Akhirnya harimau itu berhasil dibunuh warga.

"Mengerikan ya, Yah. Nenek pernah mengalami kejadian yang seperti itu. Pasti nenek sangat terpukul melihat ayahnya meninggal di hadapannya. Karena hendak menolongnya pula."

"Iya. Nenek lama sekali mengalami trauma. Nenek ketakutan. Pada waktu itu nenek masih sangat kecil."

"Selain terpukul karena kehilangan ayahnya dengan cara seperti itu. Nenek juga pasti trauma karena pernah diterkam harimau. Hampir saja harimau itu melukai nenek kan, Yah.?"

"Iya. Karena ayah nenek datang, dan langsung memukul harimau itu. Harimau beralih ke ayah nenek. Setelah ayah nenek tak bernyawa, harimau itu pun pergi."

"Mungkin mendengar warga bertangan kan, Yah? Trus, kenapa harimau yang selalu menghindar ketemu manusia, sampai turun ke rumah masyarakat? Apa makanan mereka sedang habis di hutan?"

"Mungkin begitu." 

Kemudian ayah hening. Aku pun diam. Aku membayangkan seperti apa peristiwa tersebut berlangsung. Kami lalu tidak membahas itu lagi. Kami melanjutkan berbagai aktifitas harian rumah. 

0 Response to "Cerita Ayah Tentang Nenek"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel