Kisah Nyata: Kebahagiaan Menjadi Seorang Ibu

kasih sayang seorang ibu

Ini bukanlah kisah nyata tentangku. Tapi kisah nyata tentang ibu. Seorang ibu yang aku kenal. Ya, dia adalah ibuku. Tulisan ini kudedikasikan untuknya. Supaya aku mengenang kisah ini dalam bentuk tulisan. Bukankah tulisan adalah salah satu bentuk dari wujud cinta itu sendiri?

Aku adalah anak kedua dari empat bersaudara. Aku punya seorang kakak perempuan. Kemudian aku punya dua orang adik laki-laki. Aku punya kisah tentang kebahagiaan ibuku dalam profesinya menjadi seorang ibu. 

Ibu, wanita yang sudah melahirkanku. Mungkin seperti kebanyakan anak lainnya. Aku pernah bertanya kepada beliau bagaimana proses ia melahirkanku. Aku juga bertanya bagaimana kondisi beliau saat sedang mengandungku.

Beliau tentu saja tertawa. Beliau menertawakanku karena sudah menanyakan pertanyaan itu. Namun beliau menjawab pertanyaanku. Katanya, saat hamil aku, beliau tidak mengidam apa-apa. Beliau mengalami perubahan yang tidak mencolok saat hamil aku.

Kemudian tentang proses lahiran aku. Beliau cerita bahwa pertamanya beliau merasa mules. Beliau pikir mau buang air besar. Beliau punke toilet. Ternyata malah kepalaku yang nongol. Lalu beliau tertawa lagi.

Aku keheranan. Bagaimana mungkin kepalaku nongol di keloset? Lalu beliau bilang kepalaku langsung beliau tangkap. Beliau pun berlari ke kamar dan segera berbaring. Aku pun keluar meluncur di atas kasur.

Aku tambah keheranan dong. Masa iya aku meluncur gitu? Ternyata kata ibuku, aku terlahir masih di dalam kantong bayi itu loh. Kemudian memang meluncur begitu saja. Lalu ayahku bergegas memanggil bidan.

Bu bidan segera datang dan mengurus aku yang baru terlahir ke dunia. Ibu sangat bersyukur melahirkanku dengan gampang. Kata beliau ada resep turun temurun dari keluarganya. Yaitu minum minyak kelapa hijau yang dibuat sendiri. Minumnya secara rutin setiap hari selama satu bulan terakhir sebelum melahirkan.

Tapi, bagaimanapun, saat melahirkan anak pertama tak semudah itu. Mungkin gampang banget karena aku adalah anak kedua yang beliau lahirkan. Waktu hamil kakakku, ibu mengalami morning sickness yang lumayan parah. Melahirkannya juga sedikit memakan waktu.

Bagimana perasaan ibu mengurus dua anak kecil sekaligus? Apa tidak kerepotan? Jarak aku dan kakakku hanya satu setengah tahun. Beliau menjawab bahwa itu adalah hal yang lumrah. Beliau menyikapinya dengan biasa saja.

Beliau bilang, saat sudah menikah, ya harus siap menjadi ibu. Berapa pun anaknya. Bahkan beliau mengatakan memang mau anak banyak. Supaya rame. Kalau sepi beliau kurang suka.

Ibuku adalah sosok yang pendiam. Beliau sangat pendiam sedari kecil. Tapi beliau bilang, begitu menjadi ibu, sifat pendiam akan hilang terhadap anak-anaknya. Seorang ibu harus cerewet. 

Cerewet itu perlu, karena untuk kebaikan. Ibuku sering banget mengulang pesan yang sama. Mungkin sama seperti kebanyakan ibu lainnya. Suka mengulang-ulang pesan yang sama sampai dikatakan cerewet. Namun memang hasilnya, pesan tersebut menjadi melekat dalam benak anaknya.

Contohnya aku, dulu sangat gemar nonton televisi, sekarang tidak. Dulu sewaktu kecil aku seperti tidak bisa meninggalkan televisi. Aku tak rela kehilangan satu detik pun dari acara televisi. Berkat ibuku, aku jadi bisa mengendalikan diri terhadap acara yang ada di televisi.

Bagimana cara ibuku? Ya itu, ngomel gitu. "Waktu terus berlalu. Waktu ga akan nunggu kamu. Acara tivi itu ga ada habisnya. Tinggal lagi kamu yang berpikir."

Lalu ada lagi kalimat beliau, "Acara tivi itu hiburan. acara tivi itu tidak ada habisnya. Ditonton seperlunya. Hidup kita harus tetap kita jalankan. Banyak hal lain yang harus kita kerjakan."

Kemudian, "Orang adalam tivi itu cari uang. Mereka dibayar. Kamu nonton ga dapat apa-apa. Kalau kamu nonton terus, pekerjaan kamu terbengkalai. Kamu sendiri yang rugi. Kamu harus mikir."

Sering kali semua kalimat itu diulang-ulang. Bahkan selama bertahun-tahu loh. Saking aku bebalnya suka nonton. Hingga suatu saat pesan itu akhirnya masuk juga ke dalam memoriku yang dalam. Aku pun sadar betapa aku telah salah dalam waktu yang lama.

Kemudian aku berterima kasih pada ibuku. Untungnya ibuku ga lelah dalam memerhatikanku. Untung ibu ga lelah dalam memperingatkanku. Untung ibu ga lelah dalam menasehatiku. Akhirnya aku bisa mengendalikan diri dalam menonton acara tivi. Aku bisa mengatur kapan aku menonton dan kapan aku harus berhenti menonton. 

Beliau kemudian bisa lebih nyaman. Aku punya banyak waktu yang lebih bermanfaat. Beliau menjadi senang. Aplagi kalau aku manfaatkan waktuku untuk belajar.

Makanan kesukaan ibuku adalah bakso dan kerupuk. Momen makan bakso yang paling aku ingat adalah ketika kami tinggal di desa. Waktu itu karena kesibukan kami ke kebun setiap hari. Juga karena keadaan finansial, kami jadi jarang ke pasar. Suatu hari kami ke pasar dan beliau mengajak makan bakso. Bakso itu membuat beliau terlihat sangat bahagia.

Minuman kesukaan ibuku adalah teh. Beliau suka sekali ngeteh. Kesukaan beliau tentang teh ini pun menurun padaku. Aku juga suka minum teh. Momen minum teh yang paling aku suka adalah saat hujan turun di kala suasana rumah santai. Trus ada juga gorengan sebagai camilannya.

Beberapa bulan sebelum aku menikah, aku sering jalan-jalan bersama ibu. Kami mengunjungi beberapa tempat wisata. Bahkan kami juga beberapa kali membawa bekal dan menggelar tikar lalu makan di tempat wisata itu. Seru sekali.

Pada suatu waktu, aku sempat menyampaikan, "Bagaimana caranya aku membalas jasa ibu?" Beliau pun menjawab, "Tak perlu kamu memikirkan itu. Yang penting kamu melanjutkan kehidupan dengan bahagia." Beliau pun tersenyum menatapku.

Seperti kebanyakan ibu-ibu lainnya juga, bahwa kebahagian menjadi seorang ibu adalah ketika melihat anak-anaknya hidup dengan bahagia. Melihat anak -anaknya sehat. Seperti itulah ibuku.

0 Response to "Kisah Nyata: Kebahagiaan Menjadi Seorang Ibu"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel