Kisah Guru Inspiratif: Drs.Harpizi

Masya Allah Tabarakallah

Aku ingin bercerita tentang seorang guru. Seorang guru yang telah menginspirasi banyak orang. Seorang guru yang teramat mencintai profesinya. Seorang guru yang melepaskan nafas terakhirnya ketika sedang mengenakan seragam guru. Dia adalah Drs. Harpizi.

"Harpizi itu singkatan dari Harapan-Pemuda-Masa-Kini" merupakan kalimat candaan yang sering ia sebut di masa mudanya. Lalu, "Mari kita membangun desa" adalah kalimat yang sering ia sebut ketika mulai bertugas di desa. Kemudian, "Pak Guru Desa" merupakan kata-kata yang sangat ia suka. Ia sering tertawa ketika mengucapkan semua itu.

Begitulah Drs. Harpizi. Kata-kata yang ia ucapkan selalu kata-kata yang positif. Kata-kata yang ia ucapkan selalu kata-kata yang baik. Ia nyaris tak pernah mengatakan kata-kata yang tidak positif.

Itu semua karena pemikirannya yang selalu positif. Ia senantiasa berbaik sangka terhadap kedaan apa pun. Ia juga selalu berbaik sangka dengan siapa pun. Ia nyaris tak pernah mengeluh dalam hidupnya.

Apa rahasianya? Nyatanya ia berpegang teguh pada prinsip ajaran agama yang telah dipelajarinya. Ia yakin bahwa hidup adalah ujian. Ia yakin bahwa segala sesuatu sudah ditentukan Tuhan. Sehingga ia bisa selalu sabar.

Tak hanya selalu sabar. Ia juga selalu semangat. Apalagi dalam mengajar. Meskipun sekolah tempatnya bertugas jauh di atas perbukitan. Ia selalu mengusahakan datang paling awal. Kemudian mengusahakan pulang paling akhir.

Drs Harpizi telah menjadi guru sejak usia 18 tahun. Ia mengawali karirnya sebagai guru di sekolah dasar. Lalu beralih ke sekolah menengah atas. Pernah beberapa kali bertugas di sekolah menengah pertama. Pernah pula beliau mencoba menjadi pengajar di perguruan tinggi.

Sampai akhirnya Harpizi mantap bertugas di sekolah menengah pertama di desa. Harpizi merasakan kebahagiaan yang termat sangat. Meskipun rumahnya jauh dari desa tersebut. Juga, jalanan menuju ke sekolah itu belum begitu bagus.

Banyak yang menyarankan agar ia pindah dari tempat mengajarnya. Orang-orang bilang akan lebih baik mengajar di kota, dekat dengan rumahnya. "Apalagi pak Harpizi sudah tua. Lebih baik pindah ke kota. Biar ga terlalu capek, Pak." Begitulah kata orang-orang. Harpizi hanya tersenyum mendengar saran-saran itu.

Ia bahkan tidak terpikir sama sekali untuk pindah ke kota. Ia sering bercerita pada keluarganya tentang semangat anak-anak di desa. Bagaimana mungkin tega meninggalkan semangat anak-anak itu. "Kasian anak-anak", begitu katanya. Tak lupa sambil tersenyum hangat.

Mengapa begitu suka menjadi guru? Harpizi berpandangan bahwa menjadi guru adalah yang terbaik bagi dirinya dan keluarganya. Menjadi guru adalah kebaikan dalam hidupnya. Fokus pemikirannya adalah akhirat. Ia yakin dengan menjadi guru ia akan banyak dapat kebaikan nanti di kehidupan selanjutnya.

Banyak juga orang yang sering meremehkannya karena profesinya. Ia cuek saja. Ia tak ambil pusing dengan anggapan negatif orang-orang. Karena ia sudah memiliki prinsip yang jelas. Ia ingin profesi guru menjadikan jalan kemudahan untuknya ke tempat terbaik.

Yang ia pikirkan tentang pekerjaanya di kesehariannya adalah bagaimana selalu menjadi lebih baik. Ia ingin selalu mengusahan yang terbaik. Ia tak berhenti belajar. Ia mengusahakan selalu membaca buku tentang pendidikan di waktu senggangnya.

Harpizi juga suka berdiskusi tentang muridnya. Tentang bagaimana caranya mengatasi masalah-masalah yang sedang dihadapinya. Ia suka menanyakan pendapat orang-orang di sekitarnya tentang bagaimana sikap seharusnya menghadapi situasi-situasi di sekolah. 

Harpizi sangat rendah hati. Padahal ia adalah guru senior. Ia pernah beberapa kali menjadi kepala sekolah. Bahkan ia telah menjadi kepala sekolah saat masih bujangan. 

Juga pernah beberapa kali menjadi tim pembuat soal ujian nasional. Pernah berhasil mendidik murid-murid sehingga banyak yang tembus nilai sempurna di ujian nasional. Juga sering menjadi guru favorit dimanapun bertugas. 

Semua itu dijadikan sebagai penambah semangatnya. Namun tak membuat ia sombong. Ia tetap rendah hati. Tetap sering menanyakan pendapat orang. Bahkan pada yang lebih muda sekalipun. Termasuk pada anak-anaknya.

Memasuki usia 57 tahun, fisiknya mengalami perubahan besar. Ia sudah mulai tampak tua. Kelihatan begitu lelah. Walaupun ia tak pernah mengatakannya.

Ia beberapa kali terjatuh dari motor di jalan menuju ke sekolah tempatnya bertugas. Ia tetap tak mengeluh. Semangatnya dalam bertugas tak surut. Bahkan ia memikirkan program baru untuk muridnya.

"Bagus ga yah, kalau mengajarkan anak-anak Asmaul Husna?" ia bertanya pada anak-anaknya di rumah. Semua mendukungnya. Ia mengatakan akan menjadikan hafalan lima Asmaul Husna per hari sebagai program baru. Ia mau menjadikan itu sebagai ladang amal tambahan lagi.

Namun, program itu tak jadi berjalan. Ia telah diambil oleh yang Maha Kuasa. Tuhan lebih menyayanginya. Ia diambil di usianya yang ke 57.

Pada suatu pagi, ia berangkat lebih pagi. Ia ingin menyiapkan supervisi hari itu. Seperti biasa berangkat menggunakan motor andalannya. Pagi itu hujan gerimis.

Dalam perjalanan menuju sekolah, angkutan desa melintang di hadapannya tanpa terduga. Ia membentur mobil dan terguling di aspal hingga masuk ke dalam roda sebuah truk yang juga berjalan beriringan dengannya. Truk itu terhenti. Warga berkerumun. 

Polisi pun datang. Ketika dikeluarkan dari bawah truk, ia sudah tak bernyawa. Kepalanya dialiri darah segar. Darah itu pun menetes dari helmnya yang masih kuat melekat di kepalanya.

Hari itu ia langsung dikebumikan. Guru-guru dan murid-murid dari desa berdatangan. Pejabat pendidikan dan pejabat pemerintahan turut datang berbela sungkawa. Ramai orang datang di rumah duka.

0 Response to "Kisah Guru Inspiratif: Drs.Harpizi"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel