Kisah Guru Inspiratif: Muhib

kisah guru desa

Indonesia baru saja lepas dari zaman penjajahan. Pendidikan mulai dikembangkan pemerintah. Sistem sekolah yang dulu diterapkan penjajah diubah pemerintah. Pemerintah pun merekrut guru dalam jumlah yang besar. Salah satu yang lolos menjadi guru adalah Muhib.

Muhib tak asing dengan profesi guru. Ayahnya juga seorang guru. Sedari kecil ia sudah melihat bagaimana caranya menjadi guru. Ayahnya juga yang mengarahkannya untuk menjadi guru.

Menjadi guru di zaman awal kemerdekaan bukanlah hal yang mudah. Pada waktu itu masih banyak masyarakat yang tidak mau menyekolahkan anaknya. Berikut anaknya juga enggan bersekolah. Mereka lebih memilih bertani.

Ada anak yang tertarik sekolah, namun orang tuanya tidak mengizinkan. Ada orang tua yang mengizinkan anaknya sekolah, namun anaknya tak mau. Yang anaknya memang mau sekolah juga direstui orang tua, hanya sedikit. Hal ini harus disikapi dengan bijak oleh guru pada masa itu.

Muhib yang baru saja menjadi guru tentu tak mau tinggal diam. Ia juga punya cita-cita untuk memajukan pendidikan. Ia yakin bahwa pendidikan adalah hal yang penting. Penting bagi desanya dan penting bagi masyarakat desa tersebut.

Ia pun melakukan pendekatan door to door. Ia mendatangi rumah penduduk satu per satu. Setiap keluarga yang memiliki anak usia sekolah, ia datangi. Ia ingin mensosialisasikan pendidikan.

Setiap ia datang, ia selalu disambut baik. Ia adalah seorang guru yang murah senyum. Ia kemudian mengajak para orang tua untuk menyekolahkan anaknya. Beberapa paham, beberapa menolak. 

Bahkan ada yang memohon agar anaknya tak diajak sekolah. Orang tua beralasan bahwa mereka butuh bantuan anaknya di ladang. Orang tua ada yang memberikan berbagai macam hasil panen kepada Muhib agar anaknya tak diajak sekolah. Muhib pun tidak mudah menyerah.

Semakin banyak orang tua yang memohon agar anaknya tak diajak sekolah tak membuat Muhib mundur dari usahanya. Ia tetap melakukan pendekatan-pendekatan pada masyarakat. Ia berusaha terus menerus memberikan penjelasan. Sekolah itu penting.

Ia teringat perkataan ayahnya, "Zaman akan berganti. Ilmu akan bertukar." Artinya, mau tak mau memang pada akhirnya masyarakat akan memerlukan pendidikan. Generasi anak-anak mereka harus sekolah. Karena mereka akan menghadapi zaman yang berbeda dengan zaman orang tuanya.

"Pak, Bu, zaman akan berganti. Ilmu akan bertukar. Dulu ilmu kita mungkin ilmu berladang. Siapa yang bagus ilmu berladangnya, bagus pula kehidupannya. Dulu pernah juga ilmu silat yang menentukan kehidupan. Orang berlomba-lomba belajar ilmu silat, kan?

Siapa yang paling jagoan akan menguasai kehidupan. Siapa yang bagus ilmu silatnya akan berjaya. Akan menjadi orang hebat. Yang tidak bagus ilmunya, tidak baik kehidupannya.

Sekarang pedang itu, parang untuk berladang itu, berubah menjadi pena. Sekarang sejata kehidupan orang adalah pena. Siapa yang bagus sekolahnya. Bagus juga nanti kehidupannya. 

Anak-anak kita akan mengahadapi zaman yang baru ini. Zaman ilmu pengetahuan. Zamannya pena yang jadi senjata. Anak-anak memang harus sekolah. Mereka harus menghadapi zaman yang datang.

Mereka akan hidup di tengah zaman itu. Kalau mereka tak mampu mengahadapinya, tak baik nanti jadinya. Kita akan bantu anak-anak kita dengan mendukung mereka bersekolah. Kita yang justru harus menyemangati mereka."

Bertahun-tahun berlalu. Akhirnya usaha Muhib membuahkan hasil. Pandangan hidup masyarakat di desanya berubah. Desanya menjadi desa yang peduli dengan pendidikan.

Bahkan desanya menjadi desa yang terkenal dengan pendidikan yang bagus. Ia bahkan sengaja membuat rumahnya memiliki banyak kamar. Kamar-kamar itu menampung banyak anak yang ingin bersekolah tapi rumah orang tuanya jauh. Mereka tinggal di rumah Muhib.

Tinggal di rumah guru adalah hal yang baik pada saat itu. Selain mereka langsung belajar tentang keseharian guru, mereka juga bisa mengulang pelajaran dengan maksimal. Mereka juga memiliki waktu yang lebih banyak untuk belajar. Mereka memiliki kesempatan yang lebih banyak untuk menjadi lebih pandai.

Muhib kemudian menjadi kepala sekolah. Ia menjadi kepala sekolah dalam waktu yang lama. Ia kemudian diangkat menjadi pejabat pendidikan di kota. Ia dan keluarganya pun pindah ke kota.

Ia memiliki delapan orang anak. Delapan orang anak tersebut tumbuh menjadi anak-anak yang pandai. Tiga diantaranya menjadi guru pula akhirnya. Ketiga-tiganya pun menjadi kepala sekolah. 

2 Responses to "Kisah Guru Inspiratif: Muhib"

  1. Ini kisah nyata ya... Inspiratif. Sosok guru, pahlawan tanpa tanda jasa, pengorbanan tidak sebanding dengan gaji, tapi tanggung jawabnya besar mencetak generasi penerus yang bisa bermanfaat bagi bangsa

    ReplyDelete
  2. Bahagia bisa panggil Pak Muhib Datuk :)

    ReplyDelete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel