Pahlawan Penjaga Perbatasan

Pahlawan Nasional

Masih lekat dalam ingatanku, empat tahun yang lalu saat aku diberi kesempatan mengenal sedikit daerah perbatasan negara. Sebelum itu aku tak pernah menyangka, tak pernah mebayangkan, kalau aku akan pernah hidup tinggal di sana selama beberapa waktu. Aku akhirnya memiliki kesempatan untuk mengenal daerah yang mungkin jarang diliput orang. Suatu daerah yang bahkan namanya sangat tidak dikenal. Bagaimana kami sebelum berangkat ke daerah itu sibuk mencari-cari di dunia maya tntang apa saja yang bisa diketahui dari daerah tersebut. 

Indonesia adalah negara yang sangat luas. Indonesia terdiri dari begitu banyak pulau. Lautan yang berpotensi memisahkan juga sangat luas. Bahkan laut di timur Indonesia itu adalah laut dalam, kawan. Kemudian nyatanya muncul istilah di antara masyarakat di sana bahwa selain dari pulau mereka, jika sudah menyebrang dari lautan timur itu, maka yang ada hanyalah pulau Jawa. Tak heran, karena di Pulau Jawa ada Ibukota negara. Pertelevisian juga kerap kali mengabarkan tentang cerita di Jawa. Maka Indonesia itu terbagi menjadi pulau mereka dan pulau Jawa.

Apakah mereka benci Pulau Jawa? Tentu tidak. Mereka justru bermimpi ingin ke sana. Pertelevisian menunjukkan kepada mereka bahwa pulau Jawa begitu indah. Peradabannya begitu modern. Kotanya begitu ramai dan gemerlapan. Sungguh merupakan daerah yang patut dijadikan sebagai impian. Kehidupan sehari-hari mereka jauh berbeda dengan kehidupan sehari-hari di Pulau Jawa. Makanan yang mereka makan sungguh berbeda dengan makanan yang orang Pulau Jawa makan. Apakah mereka menyesal menjadi penduduk daerah mereka? Tidak. Jawabannya, Tidak. Mereka malah bangga. Mereka bangga karena mereka berkesempatan menjadi Pahlawan Penjaga Perbatasan.

Cerita pertama yang kudapat adalah dari seorang teman yang ternyata rela mengulang kehidupan dari nol demi memilih Indonesia sebagai kewarganegaraannya. Mereka adalah keluarga yang terlibat referendum Indonesia-Timor Leste. Mereka sekeluarga memilih kewarganegaraan Indonesia. Mereka terpaksa meninggalkan semua harta benda mereka yang sudah dengan susah payah mereka kumpulkan sebelumnya. Cerita kedua yang kudapatkan adalah dari seorang pelajar yang berasal dari keluarga besar yang terpecah karena memilih kewarganegaraan. Ada paman yang terpisah dari istrinya. Ada anak yang terpisah dari orang tuanya. Ada saudara yang terpisah dari saudaranya. Mereka benar-benar pahlawan yang memiliki keberanian.

Keberanian dalam memilih. Keberanian dalam berprinsip. Keberanian dalam menerima konsekuensi. Keberanian mempertanggungjawabkan keputusan mereka. Apapun itu mereka adalah pahlawan. Merekalah yang bertempat tinggal di perbatasan. Bahkan ada satu daerah yang rumah-rumah penduduk antar negara saling berhadap-hadapan. Satu baris rumah memasang bendera merah putih. Kemudian satu baris rumah di hadapannya memasang bendera negara lain. Mereka yang memasang bendera merah putih ini menjadi representasi dari bangsa Indonesia secara keseluruhan. Jika baik mereka bersikap, maka baiklah nama negara Indonesia. Jika bagus prestasi mereka, maka baguslah nama negara Indonesia.

Bagaimana generasi penerus mereka akan menentukan bagaimana keberlangsungan kehidupan mereka nantinya?

semoga Allah selalu melindungiku

Lalu aku menjadi penasaran. Penasaran itu memuncak saat aku dan beberapa teman berniat mengunjungi dua sekolah di dekat perbatasan. Dua sekolah dasar yang berada dalam satu atap, sekolah satu atap. Sekolah dasar yang menjadi representasi dari penduduk di perbatasan. Aku berangkat dengan berdebar. Dag dig dug penasaran tentang bagaimana anak-anak itu. Perjalanan ke sana memakan waktu cukup lama. Kami naik angkutan umum dari kota. Pada waktu itu adalah peringtatan hari guru. Kami ingin melakukan seremonial peringatan hari guru di sekolah mereka.

Ternyata, mereka adalah murid-murid yang memiliki semangat yang tinggi. Begitu memasuki halaman sekolah, terlihat olehku beberapa anak menenteng kantong plastik berisi buku pelajaran dan bekal makanan. Beberapa anak kulihat tak memakai sepatu tapi memakai sandal. Namun sambil tertawa riang bersama teman-temannya. Beberapa anak bahkan bertelanjang kaki, menenteng kantong plastik , tak pakai topi, tak ada dasi, dan mengenakan baju yang lusuh sekali. Tetap mereka memiliki senyuman dan canda tawa terbaik yang pernah aku lihat. Mereka sungguh bersemangat.

Keadaan sekolah mereka baik menurutku. Pemerintah telah membangun sekolah yang bagus sampai ke perbatasan. Guru-gurunya juga guru aparatur sipil negara. Sampai di sana sudah sangat baik menurutku. Mungkin yang kurang adalah jalur transportasi yang bagus sampai pelosok. Lalu fasilitas yang lengkap yang dibutuhkan sekolah. Kemudian guru yang bisa membimbing murid-murid dengan fasilitas yang diberikan. Misalnya pemerintah memberikan bantuan piano, kalau tak ada sama sekali orang yang mau dan mampu membimbing murid-murid di sekolah itu belajar piano, akhirnya piano yang diperbantukan pemerintah menjadi sia-sia saja. Kan sayang banget sudah mengeluarkan dana yang besar untuk itu. Mereka juga kekurangan buku sumber bacaan. Selain buku sumber bacaan kurang, mereka juga butuh pembimbing untuk mau dan mampu mencintai buku tersebut.

Bagaimanapun, aku tetaap senang melihat wajah anak-anak itu. Mereka begitu semangat. Mereka juga memiliki nasionalisme yang tinggi. Mereka bangga terhadap negara. Mereka pun mau menjaga negara di perbatasan. Mereka tidak suka mengeluh. Mereka juga tidak iri dengan daerah lain yang lebih maju daripada daerah mereka. Melihat mereka, aku yakin perbatasan aman. Apalagi mereka ditemani juga dengan pak polisi dan pak tentara yang turut menjaga daerah-daerah perbatasan. Tentara-tentara yang diutus menjaga perbatasan juga luar biasa semangatnya dalam menjaga perbatasan. Mereka selalu siap siaga di perbatasan. Merekalah pahlawan penjaga perbatasan. Mereka memastikan perbatasan negara aman. Terimakasih para pahlawan.

2 Responses to "Pahlawan Penjaga Perbatasan"

  1. Pengalaman berharga banget ya mba. Wah, sampe pas persis di garis perbatasan rumah2nya saling berhadapan tapi benderanya berbeda ya.. unik banget.. anw di daerah mana itu mba?

    ReplyDelete
    Replies
    1. iya, mba.. di daerah Haumeniana, mba.. Kabupaten Timor Tengah Utara, Pulau Timor, NTT

      Delete

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel