Tsauban Si Ahli Masjid


Ada sahabat rasulullah yang bernama Tsauban. Ia adalah orang sholeh. Ia ahli ibadah yang selalu lekat dengan masjid. Ia adalah salah satu sahabat nabi yang ahli masjid. Ia tak mau berpisah dengan masjid. Bahkan dia memiliki posisi khusus di dalam masjid, yaitu pojok kanan.

Pojok kanan itu posisi favoritnya. Ia suka karena pojok kanan tidak banyak terganggu dan tidak memungkinkan mengganggu orang lain. Posisi yang tidak banyak bersinggungan dengan orang. Samping kanan berupa kurma sebagai tiang. Samping kirinya ada satu orang. Sedangkan menengok ke belakang tidak mungkin. 

Ia ingin bisa lebih khusyuk di posisi ini. Ini pun sudah diketahui rasulullah. Setiap rasulullah ke masjid, Tsauban sudah ada di pojok kanan. Hal yang menarik juga dari Tsauban adalah fisiknya yang  kurus sekali. Bahkan seperti orang jarang makan. 

Pada suatu hari rasulullah bertanya kepada Tsauban tentang kenapa Tsauban sangat kurus. Rasulllah bertanya, "Kenapa kamu begini?"

Tsauban menjawab rasulullah, "Ya rasulullah, saya bukan tidak mendapatkan makanan, di rumah ada makanan. Saya juga bukan orang yang sakit. Dalam keadaan kurus begini saya juga tidak lemah seperti orang sakit. Walaupun saya kurus begini saya bisa berjihad. Kalau ada seruan berjihad, saya akan menjadi orang pertama berangkat.

Ya rasulullah, saya seperti ini karena saya sulit makan dan sulit minum. Ketika siang datang, saya selalu memikirkan anda. Apa kira-kira saya ketemu lagi dengan anda? Ketika malam, saya terpikir lagi. Apa kira-kira akan ketemu lagi dengan anda? 

Yang paling sulit membuat saya menyentuh makanan adalah kalau di dunia saya masih bisa melihat anda ya rasulullah, tapi kalau kita berpisah, di surga apa kita ketemu lagi. Anda rasulullah sedangkan saya orang biasa seperti ini. Saya khawatir ketika di akhirat anda di tempat tertinggi sedangkan saya bukan siapa-siapa. Kita bisa berbeda dan berpisah. Itu yang membuat saya sampai hari ini sulit makan sulit minum karena memikirkan ini.

Kemudian turunlah firman Allah.

Dan barang siapa menaati Allah dan Rasul (Muhammad) maka mereka itu akan bersama-sama dengan orang yang diberikan nikmat oleh Allah, (yaitu) para nabi, para pencinta kebenaran, orang-orang yang mati syahid, dan orang-orang sholeh. Mereka itulah teman yang sebaik-baiknya. 

Ketika mendapat penyampaian dari rasululah bahwa turun ayat ini, Tsauban bahagia luar biasa. Ia semenjak itu meningkatkan lagi amalan-amalannya. Ia berusaha lebih lagi untuk mengikuti semua perintah rasul. Ia pun lebih rajin ke masjid. 

Suatu waktu, ketika nabi datang ke masjid, pojok kanan masih kosong. Pada waktu itu adalah waktu sholat subuh. Sebelum sholat, rasulullah menanyakan keberadaan Tsauban. Tidak ada yang tahu. Mereka menunggu Tsauban datang. Karena tak kunjung datang, sholat akhirnya dilaksanakan tanpa Tsauban.

Ketika selesai menunaikan sholat, rasulullah dengan para sahabat mencari Tsauban. Mereka mencari tahu dimana rumahnya. Setelah tahu rumahnya, mereka berangkat ke rumah Tsauban. Ternyata rumah Tsauban berjarak tiga jam jalan kaki dari masjid. 

Sampai di rumah Tsauban, didapati kabar bahwa tsauban sudah meninggal dunia. Dikabarkan oleh istri Tsauban bahwa suaminya telah meninggal dunia.  Rasulullah bertanya apakah ada yang terjadi sebelum ia meninggal. "Apakah ada yang terjadi sebelum dia meninggal?"

"Saya tidak merasa ada yang istimewa. Tapi saya tidak memahami tiga kalimat yang ia ucapkan."

"Apa itu?

"Ya Rabb.. Ya Rabb.. kenapa tidak lebih jauh.. Ya Rabb.. Ya Rabb.. kenapa bukan yang baru.. Ya Rabb.. Ya Rabb.. kenapa bukan semuanya.."

Kemudian rasulullah tersenyum dan menyampaikan kabar berita dari langit. Rasulullah menyampaikan bahwa ketika sebelum Tsauban wafat, ditampakkan pahala-pahala yang ia dapatkan. Untuk kalimat Tsauban yang pertama, ia ditampakkan pahala yang ia dapatkan selama menempuh perjalanan tiga jam ke masjid. Setiap langkah mendapatkan pahala. Maka Tsauban menyesali kenapa masjidnya tidak lebih jauh. Agar ia bisa mendapatkan pahala yang lebih banyak.

Untuk kalimat kedua Tsauban, ternyata Tsauban pernah mengalami perjalanan di musim dingin. Ia melihat ada orang yang sedang kedinginan. Pada waktu itu ia mengenakan baju dua lapis. Baju luarnya adalah bajunya yang lama. Sedangkan baju yang di bagian dalam adalah baju baru. 

Tsauban pada waktu itu memberikan baju yang terluar kepada orang yang kedinginan tersebut. Ketika ditampakkan pahala dari pemberian itu, Tsauban menyesali kenapa dulu ia tidak memberikan yang baru. Kenapa ia memberikan bajunya yang lama. 
'
Kalimat ketiga ia mengucapkan 'kenapa bukan semuanya'. Ternyata karena dia adalah orang yang biasa bersedekah. Ketika ditampakkan pahala sedekah, maka ia menyesali kenapa bukan semuanya yang ia sedekahkan. Kenapa tidak lebih banyak lagi ia bersedekah.

0 Response to "Tsauban Si Ahli Masjid"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel