Cara Bangkit dari Keputusasaan - ninamustika.com google-site-verification: google0a2d1c86a0959499.html

Cara Bangkit dari Keputusasaan


Waktu itu aku sudah sangat putus asa. Aku merasa aku adalah orang paling bodoh yang pernah aku tahu. Aku serasa tak mengerti apa pun yang dosen jelaskan. Aku merasa tidak bisa mengerjakan tugas-tugas yang diberikan para dosen.

Banyak orang berkata bahwa semester lima kuliah adalah masa sulit. Masa dimana tugas banyak sekali. Masa dimana mata kuliah rumit berkumpul. Masa ini disebut-sebut sebagai masa dimana rasanya ingin berhenti kuliah dan menikah saja.

Aku duduk merenung di dalam kelasku yang sepi. Kemudian datang seorang teman. "Nin, rasanya aku ga sanggup lagi kuliah." Aku tahu yang dimaksudnya adalah sulitnya mata kuliah dan sulitnya tugas-tugas.

Kalau dari segi finansial, ga mungkin. Ia anak keluarga kaya. Yang ia katakan pastilah tentang sulitnya perkuliahan semester ini. Aku menatapnya.

"Aku juga sudah merasa ingin menyerah. Aku tak mengerti materi yang diberikan dosen-dosen kita. Aku tak sanggup samasekali membuat tugas yang diberikan. Aku merasa lelah sekali.

Aku mau berhenti kuliah. Sepertinya bangku kuliah tak cocok untukku. Aku tak pantas ada di sini. Aku sudah berada di titik batas kemampuanku."

Ia tampak lesu, "Sama ya, nin. Aku juga mau berhenti kuliah. Aku akan bilang sama mamaku. Secepatnya. Aku mau meneruskan usaha toko orang tuaku aja, nin."

Kami berdua lalu diam. Kepalaku pusing. Hatiku sedih. Jiwaku rapuh. Ragaku lelah. Sepertinya aku juga mau segera mengatakan semua hal ini kepada orang tuaku.

Siang hari waktu break jam mata kuliah, aku dan temanku pergi mau menenangkan diri di taman kampus. Ketika kami sampai, kami berpapasan dengan seorang kakak tingkat yang sedang menyusun skripsi. Ia tampak sangat sibuk.

Kami berdua duduk di taman kampus. Kakak tingkat itu kemudian datang mendekat. Ia tampak lelah baru saja mondar-mandir. Ia memegang map berisi lembaran-lembaran skripsinya.

Kami tak mengenalnya. Kami tak tahu siapa namanya. Tak pernah pula berbincang dengannya sebelumnya. Tapi kami saling tahu bahwa kami adalah kakak dan adik tingkat satu jurusan.

Ia lalu duduk di dekat kami. Tak diduga ternyata ia curhat tentang betapa sulitnya ia berjuang menyusun skripsi. Juga tentang sulitnya ia menjalani perkuliahan. Ia mengaku ia bukan mahasiswa yang cerdas.

"Mbak ini bodoh, dek. Kadang mbak ga tahu apa-apa tentang materi perkuliahan. Kadang mbak ga bisa samasekali mengerjakan tugas. Tapi mbak jalani aja. Akhirnya semuanya terlalui.

Begitula tipsnya dalam berkuliah. Walaupun sangat sulit. Lalui aja. Pasti nanti berlalu. Walaupun mbak bodoh, kini mbak sedang nyusun skripsi juga. Nanti orang wisuda, mbak wisuda juga. Semuanya pasti akan berlalu.

Mbak dulu, dek, sempat hampir menyerah. Tapi mbak lihat orang-orang, dek. Ga semuaya pintar. Banyak yang bodoh juga. Mereka lalui aja semua perkuliahan. Mereka lalui semua waktu. Akhirnya tamat juga."

Tiba-tiba telponnya berdering. Kakak tingkat kami itu lalu pergi. Aku dan temanku tersenyum. Seolah ini penguatan untuk kami yang dikirimkan Tuhan.

Padahal kami ga bertanya apa-apa dengan kakak tingkat itu. Kami juga memang tak mengenal dia. Semangat kami kemudian tumbuh kembali. Kami tertawa bersama.

Tak lama berselang sampai pula seorang kakak tingkat. Kali ini seorang kakak tingkat yang sangat terkenal karena kecantikannya. Ia duduk dekat sekali dengan kami. Ia dan kami tak saling mengenal. Tapi ia tersenyum ramah dan seakan hendak menyampaikan sesuatu.

Ia kemudian curhat tentang perkuliahannya. Ia bercerita banyak tentang progres skripsinya. Ia lalu menyemangati kami. Bahkan berniat memberi kami contoh-tontoh tugas agar kami lebih mudah menghadapi dan menyelesaikan tugas-tugas dari dosen.

Bersegera ia membuka laptop. Ia meminta flashdisk kami yang kapasitasnya besar. Ia kemudian memberikan banyak sekali materi-materi perkuliahan. Berikut juga contoh-contoh tugas yang telah selesai ia kerjakan. 

Setelah selesai meng-copy semua itu, ia pamit mau bimbingan skripsi. Ia menyemangati kami. "Semangat ya, dek" Kami pun menjadi bertambah semangat. Kami membatalkan niat kami untuk berhenti kuliah.

0 Response to "Cara Bangkit dari Keputusasaan"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel