Sama Tapi Beda


Suatu hari ketika aku baru aja keluar dari area kantin, ku dapati dua temanku sedang berdebat. Mereka berdebat seru sekali. Saat dari jarak yang sedikit jauh, aku belum menangkap apa yang mereka ributkan. Aku kemudian mendekat.

Aku berdiri tepat di belakang mereka. Saking asyiknya mereka berdebat, mereka tak menghiraukan keberadaanku. Ternyata mereka memperdebatkan tentang wajah seorang adik kelas. Yang satu bilang kalau adik itu mirip banget sama Desi Ratnasari. Sedangkan yang satu lagi bilang ngga mirip.

"Coba kamu perhatikan baik-baik. Mirip banget."

"Mana ada mirip. Ga mirip sama sekali. Sedikitpun ga mirip."

"Mirip banget. Coba liat itu mukanya."

"Apanya yang mirip. Ga ada sedikitpun mirip."

Teman yang merasa bahwa adik itu persis Desi Ratnasari lalu menunjuk adik itu.

"Liatlah itu."

Aku langsung melihat ke arah yang ditunjuknya. Yah, menurutku tidak mirip samasekali. Warna kulit, bentuk wajah, betukntubuh, bentuk, hidung, bentuk mata, atau apalah yang ada di adik itu, sedikitpun tak ada kemiripan dengan artis Desi Ratnasari.

Aku langsung tersadar bahwa ini bukti nyata kalau sudut pandang bisa sangat jauh berbeda. Bahkan bisa bertentangan. Padahal dua orang yang berdebat itu adalah sahabat karib.

Mereka selalu kompak. Kemana-mana juga selalu berdua. Nyatanya perbedaan pendapat yang tajam juga bisa terjadi di antara mereka. Uniknya tak ada yang mengalah.

Tentang perbedaan pendapat. Sejak saat melihat pertengkaran kedua sahabat karib itu. Tepatnya sewaktu aku sekolah dasar. Aku jadi sadar bahwa kita bisa saja memahami hal yang berbeda meski melihat sesuatu yang sama.

Aku berpikir bahwa tak sebaiknya memaksakan orang memahami pendapat kita. Tak perlu juga memaksakan diri memahami orang lain. Belum tentu benar menaksir apa yang orang pikirkan. Aku jadi lebih berhati-hati. Aku juga selalu berusaha mengerti jika ada perbedaan pendapat.

Dua orang atau lebih bisa saja melihat fokus pada satu benda yang sama. Namun, memikirkan tentang hal yang berbeda. Bisa saja membaca buku yang sama. Namun menyimpulkan hal yang berbeda. Berada di ruangan yang sama, namun merasakan hal yang berbeda.

Faktanya, semua tergantung dengan latar orang masing-masing. Karena orang berbeda-beda latar belakang. Baik latar belakang pengetahuan, latar belakang pengalaman, latar belakang lingkungan, latar belakang keluarga dan lain sebagainya.

Pentingnya Penerimaan
Dalam suatu lingkungan atau komunitas, penerimaan atas perbedaan setiap individu sangat penting. Seandainya suatu kelompok masing-masing anggotanya menerima keadaan khas setiap individu, maka itu adalah kebaikan yang banyak.

Dalam satu kelompok yang beranggotakan lima orang misalnya. Satu orang centil dan lemot. Satu orang sangat pendiam. Satu orang pecicilan. Satu orang pintar dan bijaksana. Satu orang jago masak tapi ga terima masakan orang lain.

Apakah lima orang ini bisa hidup bersama? Jawabannya adalah bisa. Yang jago masak jadi koki utama. Teman-teman yang lain membantu persiapan masak saja. Sesekali masak dengan dibantu si jago masak.

Yang centil dan lemot tidak dihujat sama sekali. Tetap dijadikan teman. Teman cerita, teman makan, dan sebagainya. Yang sangat pendiam tidak dipaksa untuk berbicara. Tetap bisa dijadikan teman. Teman makan, teman jalan bareng menikmati keindahan alam.

Yang pecicilan tidak dibully samasekali. Tetap bisa menjadi teman baik. Teman yang menghibur. Teman yang lucu dan asyik. Sedangkan yang pintar dan bijaksana menjadi pemimpin.

Tidak ada pernah anggota satu sama lain memaksa anggota lainnya. Tidak ada memaksa yang lemot untuk cepat berpikir. Tidak memaksa yang pendiam untuk bicara. Tidak memaksa yang pecicilan untuk kalem. Tidak memaksa yang jago masak untuk harus mau makan masakan orang lain.

Akhirnya mereka bisa hidup bersama dalam kenyamanan. Tidak ada yang tersakiti. Tidak ada yang merasa disudutkan. Semua pekerjaan bisa dikerjakan bersama. Tawa canda dan keceriaan tetap terjaga.

0 Response to "Sama Tapi Beda"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel