Mempersiapkan Administrasi Untuk Melahirkan Sesar

Mempersiapkan Administrasi Untuk Melahirkan Sesar

Administrasi untuk melahirkan perlu dipersiapkan juga. Administrasi yang terpenting buatku adalah BPJS. Sebenarnya aku udah gabung BPJS sedari lama oleh kakakku. Tapi sejak menikah, belom sempat diurus pindah ke suami.

Lebih kurang dua bulan menjelang lahiran, finally suami baru sempat mengurus administrasi kami. Mulai dari mengurus kartu keluarga. Ternyata ga gampang juga. Birokrasi dimulai dari daerah asal.

Kami perantau. Suami asal Solok, Sumbar. Aku asal Kota Bengkulu, Bengkulu. Kami menikah di Bengkulu. Lalu pindah ke Tanjung Enim, Muara Enim, Sumsel. Suami kerja di sini.

Yang pertama diurus untuk buat kartu keluarga baru adalah membuat surat keterangan pindah domisili dari daerah kami masing-masing. Suami minta dibuatkan sama ibu di solok. Kemudian baru dikirim ke tempat kami. Waktu membuatnya beberapa hari. Plus waktu kirim beberapa hari juga.

Aku minta buatkan sama kakakku di Bengkulu. Kata kakakku harus ada pengantar dari RT. Lanjut ke kelurahan. Baru ke Dukcapil. Mengurus di Dukcapil lama. Datang hari ini, jadinya minggu depan.

Total dari RT, Kelurahan, sampai ke Dukcapil mencapai hitungan lebih seminggu. Setelah itu baru dikirim ke tempat kami. Untung waktu kirimnya ga lama. Karena via travel. Jarak Bengkulu ke Tanjung Enim sekitar 8 jam.

Sudah ada surat keterangan pindah domisili dari daerah asal kami masing-masing barulah suami mengurus pembuatan kartu keluarga. Juga dimulai dari pengantar RT. Lanjut ke RW. Kemudian ke kelurahan. Terus baru ke Dukcapil.

Sama seperti keterangan kakakku, antrian di Dukcapil banyak. Jadi buatnya juga lama. Datang urus hari ini, selesainya minggu depan. Begitu minggu depan mau ambil, suami langsung dikasih kesempatan urus KTP sekalian. Hari itu juga suami dapat KTP baru.

Tapi aku belom. Karena aku harus datang sendiri untuk buat KTP. Ada pengambilan sidik jari. Jadi aku bakal urus lain waktu.

Setelah selesai mengurus kartu keluarga dan KTP, suami langsung mengurus BPJS. Sebenarnya aku sudah lama jadi anggota BPJS dibuatkan kakakku. Tapi setelah menikah belom ada sempat diurus. Aku pikir aku sudah nonaktif. Ternyata masih tercatat aktif.

Kata suamiku, begitu dimasukkan nomor induk kependudukanku, langsung muncul dataku sebagai anggota aktif BPJS. Namun sayangnya masuk masa denda. Tapi masalah pendataannya gampang. Hari itu juga dataku langsung dipindahkan ke data suami.

Untuk BPJS calon bayi, diurusnya paling lambat 28 hari setelah bayi lahir. Kami berencana mengurusnya nanti saja setelah bayi lahir. Unik juga ya, sekarang bayi sudah harus punya kartu BPJS sendiri. Juga anak sekarang punya kartu identitas.

Insyaallah nanti setelah bayi lahir baru dibuatkan kartu BPJSnya. Berikut nanti bayi akan punya KIA, Kartu Identitas Anak. Karena dulu zaman kecil, ga ada ginian, jadi agak aneh rasanya. Tapi mungkin ada baiknya bayi punya kartu sendiri.

Pas suami libur, aku dan suami pergi ke Dukcapil. Antrinya lama banget. Memang yang ngantri banyak. Pegawai-pegawainya kelihatan sibuk. Walaupun sudah dibantu dengan anak smk yang magang. Pegawai dukcapil masih tampak sangat sibuk.

Mengurus kartu keluarga dan KTP di Dukcapil

Ku lihat banyak juga orangtua yang datang untuk mengurus kartu identitas anak. Jadinya banyak anak-anak kecil yang ikutan ngantri di sana. Ada juga orang-orang usia senja yang nyatanya mau ngurus akta kelahiran. Ga tau buat apa dan kenapa.

Tiba giliranku dipanggil, ternyata dibilang kalau blangko ktpnya habis. Sedang kosong katanya. Jadi aku cuma dapat surat keterangan aja. Kata petugasnya, "Ga akan lama, beberapa hari lagi, sudah ada. Sekarang dikasih surat keterangan dulu."

Surat keterangan itu berfungsi sebagai penganti KTP. Surat keterangan ini tapi punya masa berlaku yang singkat. Masa berlakunya hanya enam bulan saja. Jadi nanti memang harus urus lagi untuk KTPnya segera.

Setelah dari post pengisian data, kami diminta menunggu lagi. Karena akan ada pencetakan surat keterangan. Yang ngantri panjang. Jadi kami menunggu lumayan lama. Setelah dapat surat keterangannya, kami pulang.

Beberapa hari kemudian kami mau mempersiapkan hari kelahiran. Karena aku direncanakan sesar, maka kami harus bersegera. Takutnya dokter malah punya agenda lain. Atau karena banyak yang mau lahiran aku jadi ga dapat jadwal.

Kami pergi ke fasilitas kesehatan tingkat pertama sesuai dengan yang tertera di kartu BPJS. Kami datang ke sana sudah jam 10. Ternyata yang ngantri banyak banget. Kami diminta menuliskan pendaftaran. Lalu nanti datang lagi setelah jam istirahat siang.

Untungnya setelah jam istirahat siang itu, kami yang pertama dipanggil. Jadi ga nunggu lama lagi. Begitu konsul ke dokter ternyata dokter ga bisa ngasih surat rujukan sesar ke rumah sakit. Katanya harus ada keterangan dari bidan jejaring kalau aku memang harus sesar.

Nyatanya prosedur BPJS mengharuskan ada bidan jejeraing minimal satu orang ke fasilitas kesehatan. Kata dokternya, "Untuk masalah kehamilan, bidan biasanya lebih paham. Karena itu prosedur BPJS mengharuskan adanya bidan jejaring. Bidan yang bekerja sama dengan fasilitas kesehatan tingkat pertama. Jika memang harus sesar, ada rujukan dari bidan ke faskes, baru faskes buatkan rujukan lanjutan ke rumah sakit."

Kami harus ke bidan yang telah bekerjasama dengan fasilitas kesehatan kami tersebut. Padahal kami dari bulan pertama kehamilan sudah rutin setiap bulan ke bidan. Kami ga tahu kalau faskes tingkat pertama kami bekerjasamanya dengan bidan yang lain. Kami diharuskan ke sana.

Kami bersegera mengunjungi bidan yang dimaksud. Yang dikasih ke bidannya adalah fotocopi BPJSku. Lalu aku diminta mengisi data untuk bidannya. Katanya untuk kelengkapan data di pihak bidan. Untuk pendaftaran pertama ini dikenakan biaya Rp 50.000 saja.

Bidan lalu melakukan pemeriksaan terhadap kondisi kehamilanku. Setelah itu diperiksa juga semua data yang aku pernah dapat dari bidan yang biasanya aku kunjungi. Plus data dari klinik aku pernah USG. Bidan kemudian membuatkan surat rujukan ke faskes tingkat pertama kami.

Setelah dari bidan, kami pergi lagi ke faskes. Mendaftar lagi dan mengantri lagi. Kemudian konsultasi ke dokternya. Lalu dibuatkan surat rujukan ke rumah sakit untuk dilakukan sesar.

Besoknya, pagi-pagi sekali, sekitar jam 7, suami sudah pergi ke rumah sakit untuk daftar dan ngambil nomor antri. Ini dilakukan berdasarkan saran dari faskes tingkat satu. Katanya diperkirakan jam sepuluh baru kami bisa konsul. Aku baru kemudian dijemput menjelang jam sepuluh.

Setelah bertemu dokter, dokter melakukan pemeriksaan terhadap kehamilan. Dokter dibantu dengan beberapa perawat. Aku diperiksa tekanan darah, berat badan, dan di USG. USGnya ternyata juga gratis, tapi 2D.

Kata dokter, berdasarkan hasil USG itu, terlihat ada dua kali lilitan tali pusar. Namun bukan lilitan yang berbahaya. Hanya lilitan kecil. Letak plasenta janin juga di bawah. Fix, aku memang harus sesar.

Dokter juga meminta semua data yang pernah aku punya dari bidan maupun dari dokter tempat USG sebelumnya. Pemeriksaan ini untuk mengetahui secara detail riwayat kehamilanku. Aku direkomendasikan sesar karena mata minus enam. Lalu dokter membuat surat rekomendasi konsul ke dokter mata.

Tanggal sesarnya sudah dokter tentunkan insyaallah tanggal sekian katanya. Kami sudah diminta nanti datang bawa pakaian. Tapi dipagi hari tanggal itu, harus konsul dulu ke dokter mata. Tindakan selanjutnya menunggu hasil pemeriksaan dokter mata. Masih ada kemungkinan sesar ditunda jika kondisi tidak memungkinkan di hari itu.

Setelah itu kami harus kembali lagi ke bidan jejaring. Untuk memberitahukan hasil konsul dengan dokter di rumah sakit.  Setelah memberitahukan hasil kepada bidan, persiapan administrasi untuk melahirkan selesai. Tinggal menungggu hari kelahiran.

Itulah curhatan aku kali ini. Curhatan dari seorang bumil. Semoga ada manfaatnya. Terkhusus bagi yang mau tahu juga tentang pengurusan administrasi untuk melahirkan sesar.

Thank you for reading!

0 Response to "Mempersiapkan Administrasi Untuk Melahirkan Sesar"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel