Transportasi di Tanjung Enim, Sumsel

Transportasi di Tanjung Enim, Muara Enim, Sumatera Selatan

Hallo sobat online, kali ini aku mau cerita tentang transportasi di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Provinsi Sumatera Selatan.

Awal pindahan ke sini, aku jujur ga mikir transportasi umum apa yang ada. Mungkin karena aku sudah milih mau jadi ibu rumah tangga. Toh aku bakal stay di rumah aja. Sesederhana itu.

Qadarullah, di bulan pertama aku di sini, aku dapat pekerjaan. Aku dapat kesempatan mengajar di sebuah bimbel. Jadwalnya santai. Lima hari dalam sepekan. Satu hari hanya satu jam setengah saja.

Jadwal mengajarku adalah sore, setelah sholat ashar. Jam segitu suamiku biasanya pulang. Kadang belum pulang kalau ada jam tambahan. Aku harus pergi sendiri.

Barulah aku terpikir bahwa aku butuh transportasi umum. "Transportasi umum yang ada di sini apa, bang?" Aku tanya suami ternyata katanya cuma ada ojek. Ongkosnya Rp. 5000 jarak standar. 

"Kalau jaraknya lebih jauh, ojeknya bakal minta tambahan. Tapi memang ya cuma ojek pilihannya. Ga ada transportasi lain. Ada angkutan desa, tapi antar desa biasanya. Bukan keliling Tanjung dianya."

Aku akhirnya nyoba naik ojek. Ojek banyak banget di sini. Ojek sini pakai baju lapangan kayak baju lapangan orang pertambangan. Karena di sini ada perusahaan tambang atau karena memang dikasih sama perusahaan itu.

Berbulan-bulan aku sering naik ojek. Aku selalu bayar Rp 5000. Ternyata ada teman bilang, "kalau jaraknya dekat kasih Rp 3000 aja." Suatu hari aku iseng tanya tukang ojeknya dulu sebelum bayar, "berapa, pak?" Kaget aku ternyata dia jawab, "Rp 2000 aja."

Tapi pernah aku jarak dekat banget, aku kasih Rp 3000, kali ini tanpa tanya, eh bapaknya tampak sangat kecewa. Aku jadi menyesal. Sejak itu aku ga mau lagi kasih Rp 3000. Semuanya aku kasih Rp 5000. Jarak standar maupun jarak dekat banget. 

Setelah dipikir kesian juga. Kan bapaknya tulang punggung keluarga. Pasti punya anak istri yang berharap banyak atas penghasilannya. Setelah diamati lebih jauh, orang kebanyakan punya kendaraan pribadi. Jadi pengguna ojek itu hanya sedikit.

Selain ojek dan angkutan desa, ada juga becak, aku ga tahu berapa ongkosnya. Aku ga punya kesempatan bertanya langsung. Kalau tanya teman, ga tahu juga. Mereka juga ga pernah naik becak.

Aku lihat ada juga beberapa kali angkutan desa itu mengantar lokal Tanjung. Aku ada lihat anak-anak sekolahan naik itu. Tapi ga tahu juga berapa ongkosnya. Teman-teman juga ga tahu karena ga pernah naik itu. Semua punya kendaraan pribadi.

Beberapa bulan berlalu lagi, aku lihat mulai ada ojek online. Aku instal aplikasinya. Ternyata ada tapi masih sedikit mitranya. Namun, semakin hari semakin bertambah. Aku cek ongkosnya, lebih murah ojek konvensional.

Beberpa bulan kemudian, aku cek sudah ada kendaraan mobil di aplikasi transportasi onlinenya. Namun kadang ada kadang ngga ada. Ada juga cuma sedikit. Ada satu atau dua. Begitu juga ojeknya, terlihat satu, dua, atau tiga.

Kalau aku cek di pagi hari, biasanya ga ada. Adanya di siang atau sore. Pas hari hujan apalagi. Biasanya ga ada. Malam juga hanya ga jauh dari maghrib adanya. 

Untuk ojek konvensionalnya aku juga ga lihat malam hari. Mungkin ada hanya sangat sedikit. Yang banyak terlihat kendaraan pribadi aja. Plus di sini banyak bus karyawan perusahaan tambang yang lalu lalang.

Untuk di pusat kabupatennya ga jauh beda. Aku pernah sekali ke sana karena mau urus pembuatan KTP. Situasi terasa lengang. Ga ada transportasi umum yang terlihat. Hanya ada ojek. Selebihnya kendaraan pribadi. Tapi di pusat kabupaten ini katanya ada stasiun kereta api. Jalurnya bisa ke Palembang atau ke Lubuk Linggau.

Itulah cerita tentang transportasi yang ada di Tanjung Enim, Kabupaten Muara Enim, Sumatera Selatan.

Thank you for reading!

0 Response to "Transportasi di Tanjung Enim, Sumsel"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel